10 October 2007

Semoga Tuhan Baca Blog Ini

Postingan kali ini terinspirasi dari obrolan di sebuah tempat ngopi bareng seorang kawan. Semua agama di dunia ini saya yakin pasti ada tuntunannya dalam hal beribadah. Semua memiliki bentuknya sendiri-sendiri. Karena saya seorang muslim, maka banyak sekali tuntunan ibadah yang harus saya kerjakan. Semua terangkum dalam rukun Islam yang ada 5 buah ; mengucap kalimat syahadat, mengerjakan sholat, menjalankan puasa di bulan ramadhan, menunaikan zakat,dan pergi ke tanah suci untuk berhaji bagi yang mampu.

Saya tergugah dengan lagunya Chrisye(alm) yang berduet dengan mas Dhani yang berjudul “Jika Surga dan Neraka”. Ada syair disitu yang mengelitik saya : “Apakah kita semua, benar2 tulus menyembah pada-Nya, atau mungkin kita hanya takut pada neraka dan menginginkan surga”.

Semua agama tentu saja punya konsep tentang surga dan neraka, tentang tempat yang enak dan tempat yang tidak enak yang dijanjikan pada setiap umat beragama setelah dia mati nanti.

Kembali ke Syair lagu tadi, disitu sungguh sangat tersirat mengenai motivasi kita beribadah. Apakah tujuan kita sebenarnya beribadah? Apakah kita beribadah memang benar-benar karena kita adalah umat yang baik dan tulus menyembah pada pencipta kita? Ataukah kita punya motivasi lain? Ya, motivasi untuk masuk surga dan menghindari neraka. Kalo kita hanya mengejar Surga dan menjauhi neraka, berarti bisa saja dong ibadah kita sama sekali ngak tulus. Itu bahkan saya analogikan dengan seorang bawahan yang menjilat atasannya demi sebuah kedudukan yang nyaman. Apapun cara dilakukan untuk menyenangkan sang atasan, walau saya berani jamin bahwa itu semua sama sekali nggak tulus.

Lha kalo saya, selama ini saya mengerjakan sholat, saya berpuasa, itu semata karena menjalankan kewajiban. Jarang sekali saya memikirkan Surga yang dijanjikan, atau neraka yang diancamkan. Saya sadar banget bahwa untuk meraih surga tidaklah mudah, banyak banget yang harus dikerjakan dan harus dihindari. Kalo sekedar mengerjakan yang harus dikerjakan sih mudah, tapi menghindari yang harus dihindari tadi yang sulit be’eng, apalagi diterapkan pada kehidupan jaman sekarang. Sekedar sholat, sekedar puasa saja tidak lantas menjamin akan masuk surga tanpa merasakan jilatan api neraka dulu.

Dalam agama yang saya peluk, sangat mudah dan banyak sekali jalan bagi seseorang untuk mencicipi neraka. Banyak hal yang dijadikan larangan dan sebaiknya di jauhi demi terhindar dari api neraka. Itu yang bikin saya sempat desperate. Kehidupan saya selama ini dekat sekali, atau bahkan selalu bersinggungan dengan hal-hal yang harus dihindarkan tadi. Saya jadi mikir bahwa seseorang yang hidup di jaman sekarang sangat tidak mungkin untuk tidak mengecap dosa, sedangkan ibadah yang dilakukan belum tentu juga dianggep oleh Gusti Alloh.

Ini contoh gampangnya : dikampus saya banyak banget cewek-cewek sexy. Bahkan mendekati sempurna fisik (mungkin Tuhan lagi punya sense of art yang bagus pas nyiptain tu cewek-cewek). Lha melihat pemandangan seperti itu dalam Agama saya sudah dikategorikan sebagai zina mata dan sebisa mungkin harus dihindari. Trus kadang liat cewek sexy pikiran juga jadi kemana-mana, dalam agama saya, lagi-lagi, itu dikategorikan dalam zina pikiran (dan tentu saja masih banyak dosa-dosa yang lain selain zina). Dalam sekali action saja udah dua dosa yang terambil, itu belum diitung berapa kali terjadi dalam selang waktu sholat yang 5 kali sehari itu, sedangkan dalam sholat (ibadah wajib), bisa dihitung dengan jari berapa kali saya bisa benar-benar khusyuk (konsentrasi penuh gitu lah). Tuhan saya hanya menerima sholat yang benar-benar sempurna, itu juga macem-macem syaratnya. Bisa dibayangkan betapa desperatenya saya?? Tapi saya desperate bukan trus saya meninggalkan semua kewajiban saya, saya tetep menjalankan kewajiban saya, semampu yang saya bisa. Namun saya kadang mengesampingkan dulu mengenai meraih surga. Saya cuma manusia biasa, yang kata Ustad Jefri, manusia itu dimata Tuhan hanya ibarat sebutir pasir di tengah padang gurun, gak ada artinya apa-apa. Bagaimana saya berani sombong untuk bisa beroptimis ria saya akan meraih surga.

Maafkan hambamu ini ya Allah, semoga Engkau masih mau mendengar doa dari mulut hambamu yang telah kotor dengan dosa ini. Kalaupun engkau tidak mau mengabulkan, didengar saja sudah cukup bagi saya. Aminnn.......

9 comments:

ichaAwe said...

beribadah itu seharusnya ...karena ikhlas, atau lebih tepatnya karena kita mengakui dan mencintai Allah SWT...tanpa harus mengharap imbalan apapun ...
Walau kadang kita suka salah kaprah

Vie said...

Ingat guru ngaji waktu kecil, nyuruh sembahyang pake ngancam segala. Jadi aku sembahyang bukan karena tulus hati melakukannya, tapi karena takut masuk neraka!

Ya gak fair juga dong, masa Tuhan menciptakan cewek sexy, kalian para lelaki gak boleh memandangnya?
Bukankah Allah menciptakan sesuatu untuk di syukuri, dinikmati. Seperti menikmati alam semesta.

lintang lanang said...

pada hakekatnya Cinta (dengan huruf kapital) adalah memberi. begitu juga ketika kita mencintai sesuatu yang kita yakini sebagai tuhan , kita hanya harus memberi tanpa mengharapkan untuk mendapat imbalan. apalagi memaksa untuk meminta.
dan jika manusia melakukan sebuah 'kewajiban' sekedar sebagai kewajiban, tanpa menelaah lebih jauh esensi dari apa yang diwajibkan, lalu apa yang membedakannya dengan robot?
'berpikir' adalah salah satu kemampuan lebih yang membedakan antara manusia dengan spesies lainnya.

Ely Meyer said...

Amin...

Joell de Franco said...

@ Mbak Vie : setuju banget mbak, apapun yang indah2 memang harus dinikmati...mubazir kalo nggak...hahaha...

@ Lintanglanang : Iya mas, saya setuju banget ma guneman sampeyan...saya bukan robot, mungkin hanya manusia yang belum mendapat pencerahan saja dari Gusti Alloh, saya bikin tulisan itu melalui proses berpikir juga dengan otak kacangan saya, jadi setidaknya saya bisa masuk ke spesies manusia kan?hehehe....

Deny a.k.a Como said...

Wah, kalo saya kok agak ngga setuju dengan analogi sampeyan yang menyebut bahwa beribadah seolah2 seperti menjilat atasan agar dapat posisi yang nyaman. Kalo menurut saya, ibadah itu ya ibadah saja. dalam ibadah ada ibadah. trus content yang terbawa dengan ibadah itu masing2 individu berbeda2. ada yang ngibadah karena merupakan kewajiban, ada yang ngibadah yang mengucap syukur, ada yang ngibadah biar dapat ampunan. Orientasi dari masing2 ibadah ya beda2. kalo saya, karena saya orang katolik, ya saya manut saja dengan Vatican tentang ritual2nya, tapi soal pencarian, tanpa dibantu institusi sebesar Vatican-pun saya akan terus mencari dan mengapresiasi tokoh sentral saya : Yesus. Saya akan membebaskan diri dari segala bentuk kunggkungan mainstream. Misalnya : kalo Yesus itu lahir di tanah jawa, pasti namanya Bejo ato Slamet. karena yang dibawaNya memang Bejo,Slamet, Rahayu, Berkah.ha.ha.ha. dan kalaopun pencarian saya sia2, Dia akan menemukan saya.he.he.he. Dan saya pun menganggap surga dan neraka itu sebagai reward dan punishment. Meyakini, mengkaji dan mengaplikasikan spiritualitas itu memang susah banget. Garis batasnya gak cuma antara Surga dan Neraka.

post script :
kowe ngopo to njul ? jangan2 sampeyan kehilangan orientasi tentang Tuhan.hua.ha.ha
jangan membahas itu2 saja, Tuhan kita sekarang itu peka jaman, dah paham IT. Mobilitasnya tinggi, modern, kosmopolit. Kalo sampeyan masih mempertanyakan Tuhan dimana, apa bedanya sampeyan dengan para filsuf zaman aufklarung. ha.ha masing banyak hal yang bisa kita lakukan selain mencari Tuhan, Tuhan akan mencarimu, dan sejauh-jauh sampeyan meninggalkan Tuhan, sampeyan pasti akan kembali pada-Nya.hua.ha.hayoooo....ndang tobat

sayurs said...

ra sah bingung or pesimis, kabeh wis paham, bakale kowe ki nang neraka paling bawah, pojok, deket toilet pria (kebayangkan kan joroke) kuwi wis ra iso dinego.. ha..ha..

Dony Alfan said...

Menurut saya, sah-sah saja orang beribadah untuk mengharap surga, karena surga memang sudah dijanjikan oleh Tuhan. Bukan dalam arti "menjilat" seperti yang sampeyan tangkap, namun dalam rangka menagih janji Tuhan. Satu hal lagi, ibadah juga harus didasari dengan keikhlasan. Kita musti ikhlas menjalankan ibadah sebagai suatu kewajiban, dan itu ada nilainya di depan Tuhan.

Cekap semanten rumiyin, suwun...

lovelydee said...

Hidup ada up and down nya. Mungkin saat ini Maz sedang mengalami down itu, sampe-sampe se-desperate ini.. Jgn khawatir, ntar juga nge-up lagi. Teladani aja Bapak Drs. H. Mawardi dan Ibu Hj. Siti Isnandiyah..dijamin beresss, Maz.. Aq sebagai perempuan, sangat merasa kasihan dengan (dilematisme) laki-laki saat melihat cewek2 sexy. Di satu sisi butuh penyegaran, tapi ternyata yang seger-seger itu ndak halal.. Manusia emang ga sempurna, tapi qta diberi akal, pikiran untuk mensiasati keadaan.. Tinggal niatnya aja koq Maz.. Semangat!!

Tentang ibadah, idem ma yang lain, qta musti ikhlas menjalaninya dan tawakkal..

 
;