29 June 2012 12 comments

Gundhul-Gundhul Pacul

Kalo sampeyan adalah orang jawa(Jogja/Jateng), atau setidaknya pernah hidup lama ditanah Jawa pasti tidak asing dengan lagu dolanan bocah berjudul Gundhul-Gundhul Pacul. Demi suksesnya pesan yang akan disampaikan pada guneman kali ini, berikut saya adalah syair dari lagu tersebut : "Gundhul-gundhul pacul cul gembelengan...Nyunggi-nyunggi wakul kul, gembelengan..Wakul nggelimpang segane dadi sak latar ". Mungkin terdengar konyol liriknya, karena memang seperti itulah salah satu ciri khas lagu dolanan bocah; agak sedikit konyol, dengan irama yang rancak.

Suatu malam saya nyetel sebuah tayangan di tipi lokal Jogja yang menyiarkan pengajian Padhang mBulan Cak Nun dan Kyai kanjeng-nya. Ada sebuah selingan yang membahas lagu Gundhul-Gundhul Pacul itu secara maknanya. Entah darimana pemahaman beliau berkaitan dengan lagu dolanan bocah itu, tapi saya kok bisa dibilang setuju sekali dengan pemahaman itu. Dan kalopun sampeyan punya atau tahu makna yang lain yang tersirat dari lagu yang sama tersebut biarlah guneman kali ini menjadi pelengkap pengetahuan saja, tidak usah diperdebatkan..sepakat? *salaman

Dari sekian panjang lebar pembahasan makna lagu itu kurang lebih yang saya tangkap adalah seperti ini; lagu tersebut lebih untuk pepeling(pengingat) bagi yang berkuasa entah itu Presiden, Gubernur, Walikota, bupati, sampai Lurah bahwa mereka itu sudah tidak gundul(bukan anak-anak lagi), dan sedang nyunggi wakul ( membawa bakul diatas kepala), wakul/bakul adalah tempat nasi yang mana nasi itu melambangkan kesejahteraan. Kalau yang didaulat nyunggi wakul oleh rakyat itu gembelengan(bertindak urakan/tidak benar/semaunya sendiri) maka Wakul itu akan nggelimpang/jatuh sehingga isinya yang berupa nasi akan tumpah dan tidak bisa digunakan untuk mensejahterakan rakyat.

Betapa arifnya orang jaman dahulu yang sudah mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana mereka harus bersikap saat mereka sudah besar nanti dan menjadi seorang pemimpin, meski hanya dalam lingkup rumahtangga.

Lagu yang saya sendiri juga tidak tahu kapan diciptakan itu, tapi saya yakin sudah cukup lama, ternyata masih sangat relevan dengan kehidupan jaman sekarang. Banyak pemimpin yang mengemban amanat rakyat, yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya, tapi nyatanya bersikap semaunya sendiri. Alhasil ya seperti yang sampeyan semua lihat di media tiap hari itu, tidak usahlah disebutkan disini.

* Kalo ada yang nanya, "lha terus makna Pacul apa dong?" , menurut saya kata Pacul sendiri digunakan karena pacul/cangkul sendiri identik dengan petani yang lagi2 identik dengan rakyat kecil, mungkin juga agar lagu tersebut memiliki rima yang pas..Gundhul dengan Pacul..sama2 "ul" kan? atau ada yang tau maknanya? monggo dibagi.. :)
 
;