07 June 2008

Prihatin

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Segenap direksi GUNEMANKU mengucapkan belasungkawa dan turut prihatin yang sedalam-dalamnya atas indikasi perpecahan umat Islam di Indonesia akhir-akhir ini. Semoga masing-masing pihak yang bertikai diberi pemikiran yang lapang untuk tidak berlarut-larut dalam konflik yang bisa membahayakan umat Islam sendiri.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

27 May 2008

KemanakahArahPerjuangan Mereka?

Romantika Soe Hok Gie yang seorang aktivis mahasiswa revolusioner serta memori indah penggulingan rezim Soeharto 1998 lalu, nampaknya masih menghinggapi rekan-rekan mahasiswa sampai saat ini. Mereka yang pada tahun tersebut masih memakai seragam putih-abu2, atau bahkan putih biru, pastilah segera menemukan sosok heroik mereka yang baru, dan pahlawan itu disebut mahasiswa. Segera setelah mereka masuk menjadi mahasiswa, maka mereka akan mewujudkan sosok yang heroik tersebut dalam dirinya sendiri. Ikut turun ke jalan(meski gak tau apa2 dan cuma kebagian megang poster berisi tuntutan), rela meninggalkan ruang perkuliahan, mengorbankan rupiah demi rupiah yang telah dibayarkan orang tua mereka untuk biaya kuliah, dan mengorbankan hal-hal lain demi memperjuangkan nasib rakyat, yang bahkan rakyat itu sendiri kadang tidak meminta untuk diperjuangkan dengan cara seperti itu.

Coba sekarang kita cermati aksi-aksi para “pahlawan” jalanan tersebut, sangat tipikal sekali dan homogen. Modal pengeras suara, poster tuntutan, dan kadang aksi teatrikal, mereka berbondong-bondong turun ke jalan, menuju ke depan kantor pemerintah(apapun itu), kemudian berteriak2 sampe tenggorokan kering menuntut perubahan-perubahan yang sesuai dengan idealisme mereka, yang mungkin mereka kira melakukan perubahan yang seperti mereka inginkan tersebut semudah memencet remote TV untuk mengganti chanel. Kalo udah capek dan kadang kalah bentrok sama aparat, ya mereka bubar. Perubahan yang dituntut sampe tenggorokan kering pun hanya tinggal wacana. Lain hari mereka turun ke jalan lagi dengan mengemas isu dan tuntutan yang berbeda, ya cuma kayak gitu terus.

Akhir-akhir ini saya sering ngenes sendiri melihat aksi rekan-rekan mahasiswa yang kebetulan masuk TV, tuntutan yang paling aktuil saat ini apalagi kalo bukan turunkan harga BBM. Yang bikin tambah seru ada acara bakar-bakar ban di jalan segala, yang bikin sedih adalah tindakan anarkis para demonstran yang merugikan rakyat yang saat itu sedang mereka perjuangkan nasibnya, yang bikin konyol ada sesi mencegat mobil-mobil plat merah. Lha apa setiap yang menumpang mobil plat merah itu bisa menurunkan BBM?

Menurut pandangan saya, untuk saat ini kita gak akan bisa merubah apapun hanya dengan berteriak2 di pinggir jalan menuntut ini itu, bakar ban bekas, menantang aparat, atau menyandera mobil plat merah. Kalo memang paham betul kesalahan pemerintah itu dimana, dan bagaimana cara meluruskannya yang pada akhirnya mampu untuk mensejahterakan masyarakat Indonesia, mari lakukan itu dengan cara yang intelek. Sebagai kaum intelektual, kita seharusnya paham betul kalo revolusi tidak harus dengan aksi fisik. Kalo ingin merubah sebuah sistem masuklah ke dalam sistem itu, perbaiki dari dalam. Kalo dari beratus-ratus aktivis demonstrasi sekarang mempunyai pemikiran seperti itu, saya sangat yakin anak cucu saya kelak bisa merasakan keadaan Indonesia yang jauh lebih baik dari sekarang ini. Gak perlulah demo-demo anarkis kayak gitu lagi, terlalu banyak yang dikorbankan dengan hasil yang tidak jelas juga.

Ada sebuah film dokumenter mengenai kisah mantan aktivis demonstrasi 1998, yang pada intinya dia sampe sekarang tetap harus berjuang mati-matian untuk dapat menghidupi anak istrinya, meski mungkin dia telah turut berperan menyelamatkan bangsa ini dari rezim otoritarian. Pesannya yang sangat mengena adalah, berjuanglah dengan konsep yang jelas, jangan asal turun ke jalan teriak2 tanpa paham apa yang sedang diteriakkan.

Yah mungkin kalo suatu saat kangen pengen demo, kita demo saja harga rokok yang naik terus ini. Harga rokok sebungkus sekarang lebih mahal dari harga 1 liter bensin lho, sadar gak? Padahal sehari rata2 kita habis satu bungkus, kenapa gak demo masalah itu aja ya?hehehe…

Ilustrasi foto ngambil dari revolusidamai.multiply.com

01 February 2008

Agama dan Budaya.

Hahahaha...pasti si Andik dan Doni mesam mesem liat judul guneman saya kali ini. Ada salah satu diantara mereka yang menganggap agama adalah bagian dari kebudayaan, itu sah-sah aja. Semua orang boleh beropini, dan tidak ada yang melarang orang kreatif dengan isi otaknya. Masalah kepercayaan(agama) itu adalah hak paling asasi manusia, kalopun di Indonesia hak yang paling asasi itu hanya dibatasi dengan 5 pilihan, dari dulu sejak saya lahir sudah begitu, dan sayapun tidak berminat untuk menggugat keadaan tersebut. Kebetulan kepercayaan yang saya pegang dan yakini saat ini ada dalam salah satu dari 5 pilihan yang disediakan pemerintah itu, jadi paling tidak saya terhindar dari cap “sesat” yang sekarang marak banget dianugrahkan pemerintah pada beberapa aliran kepercayaan yang hidup di Indonesia.

Saya orang yang beragama, namun saya juga sangat menghargai keberadaan budaya. Saya menempatkan kebudayaan dan agama itu dalam ruang yang berbeda karena menurut saya itu memang beda. Ditilik dari asal mulanya saja itu sudah lain. Agama berasal dari Gusti Alloh kang Murbeng Dumadi yang diturunkan lewat para Rosulnya dan disebarkan oleh para nabi dan para wali. Sedangkan budaya dari namanya saja sudah kelihatan, budaya –budi dan daya- yang berarti segala budi dan daya hasil karya cipta manusia yang kemudian diwariskan secara turun temurun dan menjadi sebuah karya yang agung yang melekat dalam masyarakat sekitar. Budaya lahir dari hasil interaksi sesama manusia, budaya dapat beraneka ragam, budaya dapat diperoleh dengan cara belajar, budaya juga memiliki sifat yang dinamis dan dapat berubah sesuai dengan tuntutan dan keadaan jaman.

Dari situ saja sudah jelas perbedaan antara budaya dan agama. Bukankah Agama itu tidak akan pernah berubah tuntunannya dan fleksibel sesuai dengan tuntutan jaman? Mesti selalu begitu karena agama itu diturunkan oleh Tuhan sudah kontekstual dengan kondisi jaman hingga sampai pada the end of the world besok. Itu sangat bisa dan sangat tidak terbantahkan, karena saya yakin Tuhan (apapun dan siapapun itu dalam kepercayaan sampeyan) Maha pintar, Maha tahu dan Maha segalanya. Tidak mungkin Tuhan melakukan kesalahan dalam menurunkan sebuah tuntunan untuk umatnya sehingga merasa perlu untuk diamandemen. Sampeyan tidak mau dikatakan bahwa Tuhan sampeyan bodo kan???

Bagaimana dengan Maulid Nabi? Apakah itu salah satu acara agama atau sebuah kebudayaan? Seperti kita tahu bahwa Maulid nabi bertujuan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Jogja dan Solo sendiri selalu diadakan acara grebeg untuk memperingati maulid nabi. Saya pernah baca dulu tentang asal mula Maulid nabi, bahwa sebenarnya tradisi itu mulai muncul pada masa perang Salib. Maulid nabi dimunculkan oleh pemerintahan masa itu untuk mengobarkan semangat pasukan Muslim. Nah Maulid nabi masih saja dirayakan sampai sekarang namun dengan bentuk dan tujuan yang sudah lain. Dari sini kita bisa berkesimpulan bahwa Maulid Nabi bukanlah acara keagamaan, namun murni sebuah acara budaya yang berasal dari daya cipta, rasa, dan karsa manusia.

Itulah kira-kira opini saya sebagai orang yang beragama dan mencintai budaya.

Guneman buat Sinuwun

Ditengah menikmati mie ayam ceker bersama cewek saya di sebuah warung mie ayam langganan, ngobrol ngalor ngidul, tiba-tiba obrolan masuk ke dunia politik. Saya suka sekali ngomongin masalah politik dengan pacar saya, dia lulusan Fakultas Sospol jurusannya Ilmu Pemerintahan, jadi kalo ngomongin masalah politik selancar kalo saya nggombalin dia.

Dia ngasih wacana soal Sri Sultan HB X yang naga-naganya mau maju di pilpres 2009 nanti. Menurut dia, asal Sultan milih gandengan yang pas maka lawan-lawannya nanti layak memperhitungkan keberadaannya. Yang mengejutkan, sempat terlontar sebuah nama yang sama sekali tak pernah terpikirkan oleh saya, Jend. Ryamizad Rakudu. Menurut dia dengan basis militer yang dimiliki Pak Jendral yang kondang bersih itu digabung dengan karisma dan basis massa yang dimiliki oleh Pak Sultan, maka akan jadi sebuah kekuatan politik yang besar, yang bahkan dapat menggusur nama-nama dan muka lama yang gak bosen-bosennya muncul ditengah-tengah pertarungan meraih RI-1. Tapi untuk yang satu ini saya kok berseberangan pendapat dengan pacar saya itu. Menurut saya jangan dululah maju dalam pilpres 2009 nanti, sebaiknya atur strategi dulu aja, setelah fondasi kuat baru mak bedunduk maju dalam periode selanjutnya. Ibarat kelapa, di tunggu tua dulu baru banyak santennya, rak nggih mekaten to sedherek-sedherek sedanten?

Pasti sudah pada tau semua kalo Sultan udah nggak bersedia lagi didapuk jadi Gubernur DIY, berita tersebut sempat membuat heboh beberapa waktu yang lalu, berbagai opini muncul dari berbagai kalangan. Sewaktu beliau mengumumkan ketidakbersediaannya untuk jadi gubernur lagi, saya juga udah menduga pasti ini adalah salah satu political movement Sri Sultan. Sultan selama ini dikenal sebagai sebuah sosok yang kharismatik dan memiliki basis massa dengan loyalitas yang sangat besar di daerah (DIY). Tapi alangkah sayang bahwa selama ini Sultan hanya berkutat di daerah saja. Pergerakannya di tingkat nasional masih belum begitu kentara. Jadi menurut saya kalo memang Sultan memiliki ambisi untuk menuju RI-1, alangkah baiknya kalo untuk pilpres 2009 nanti Pak Sultan cukup jadi RI-2 dulu aja. Yah itung-itung untuk cari massa yang lebih luas dululah. Sampeyan semua liat sendiri kan tingkah polah pak JK sekarang? Beliau dengan cerdiknya memanfaatkan posisinya sebagai RI-2 untuk menunjukkan kinerjanya. Saya yakin banget masyarakat mulai kesengsem dengan kinerja pak Saudagar yang satu itu. Semua pergerakannya memiliki tipikal pengusaha banget, selalu cepat mengambil keputusan dengan meminimalisir kerugian. Jujur saja saya sekarang juga udah mulai meninggalkan kekaguman saya pada pak SBY, dan mulai jatuh hati dengan ke-cekat-ceket-an pak JK. Semua butuh bukti, bukan janji, betul kan sodara-sodara?

Kembali ke masalah Sultan tadi, dengan segala kerendahan hati saya nyuwun sewu pada Sri Sultan junjungan saya, andaikata Sinuwun benar-benar maju jadi Capres nanti, saya belum akan memilih Sinuwun. Menjadi salah satu tokoh pencetus gerakan reformasi belumlah menjadi suatu bukti bagi saya kalo Sultan mempunyai kapasitas sebagai Raja dengan cakupan wilayah yang lebih luas(Indonesia). Saya melihat keloyalan rakyat Jogja pada Sinuwun saat ini lebih karena Sultan dilahirkan sebagai raja di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini. Dan sebagaimana kita semua mahfum kalo rakyat Jogja masih memegang teguh kultur kawulo nderek Sinuwun. Jadi andaikata pak Paiman bakul mie ayam tempat saya makan ini ndilalah dia dilahirkan sebagai raja Jogja, pasti rakyat Jogja bakalan sendiko dhawuh dan loyal juga sama dia.

Sekali lagi nyuwun sewu lho Sinuwun, saya berpendapat seperti ini karena saya sebagai rakyat Jogja, yang lahir dan dibesarkan di Jogja merasa sayang sama Raja saya, yaitu Sinuwun Sri Sultan HB X. Jangan sampai nama dan kharisma yang sekarang moncer harus meredup gara-gara salah langkah.

(guneman ini pernah saya posting di komunitas angkringan)

07 January 2008

SIDE JOB

Putih


Item


Berhubung lagi males nulis, ini saya upload foto wedding aja...hahahaha...sumpah bukan mau promosi!!!!

04 January 2008

Bermimpi

Tahun udah berganti lagi, beberapa malem yang lalu orang-orang hiruk pikuk gegap gempita merayakan pergantian tahun, “Tahun baruan” istilah mereka. Dengan properti wajib tahun baru; terompet, kembang api, dan suara knalpot serta klakson yang memekakkan telinga, mereka merayakan perubahan tahun. Hmmm...menyambut tahun baru dengan cara yang lama.

Apa sesungguhnya yang benar-benar baru di tahun yang baru ini? Pemerintahan Indonesia masih saja tetap disesaki tikus-tikus pengerat harta negara, segala praktek kecurangan seperti korupsi kayaknya juga masih akan merajalela di Indonesia wong orang-orangnya juga masih itu-itu aja, tingkat kemiskinan sepertinya masih juga akan tinggi, kekacauan di dalam negri, peredaran narkoba yang makin marak, dan bencana alam? Wallahualam kalo buat yang satu itu.

Saya kira yang benar-benar baru di permulaan tahun yang baru ini adalah impian bagi setiap orang. Pas malem pergantian tahun kemaren, salah satu sms yang masuk ke hape saya adalah dari si Deni salah satu kawan baik saya, “Resolusi apa buat tahun 2008 bro?” tanya si Deni itu pada saya. Dipikiran saya cuma satu yang wajib saya capai di Tahun ini, LULUS, itu aja. Itu udah harga mati buat saya, gak bisa ditawar-tawar lagi.

Buat negeri kita tercinta ini, apa impian sampeyan semua buat Indonesia? Kalo saya memimpikan keadaan Indonesia akan kembali seperti saat pemerintahan orde baru dulu, minus rezim yang bergelimang praktek KKN tentu saja. Harga-harga murah, nilai tukar rupiah yang kuat, tingkat stabilitas nasional yang tinggi, serta dihormati oleh negara-negara lain. Mungkin sebuah impian yang naif, tapi bukankah setiap orang bisa hidup karena mereka punya mimpi?

Jadi marilah kita sambut tahun yang baru ini dengan impian-impian konstruktif kita yang juga baru. Jangan pernah berhenti untuk bermimpi....

01 January 2008

SELAMAT TAHUN BARU 2008
(bagi yang merayakan)

Ditengah gegap gempita pesta kembang api, sisakan sedikit ruang di hati kita buat mengirimkan simpati pada mereka yang baru saja terkena bencana alam.
Semoga diberi ketabahan dan segera bangkit kembali.

Mari kita sambut tahun 2008 ini dengan beribu doa buat negara tercinta ini agar segera bangkit dari keterpurukan. Amiinnn....

24 December 2007

HAMPIR PUNAH

Saya adalah wong Jogja asli. Saya cinta banget sama kota ini, bahkan saya ikhlas kalo semisal harus menghabiskan seluruh jatah hidup saya di kota ini. Kebetulan saja sekarang saya bermukim sementara di kota tetangga, Solo. Jogja dan Solo bagi saya memiliki keeksotisan sendiri. Kebudayaan kedua kota ini hampir sama, yah maklum saja karena dulunya Jogja dan Solo memang merupakan satu kerajaan yang kemudian berpisah setelah ada perjanjian Giyanti pada 1755. Berbasis keraton sebagai penyangga utama kebudayaan, Jogja dan Solo selama ini masih dikenal sebagai kota budaya.

Melihat pembangunan di kedua kota ini hati saya bagai terbelah dua (hayaahhh...). Disatu sisi saya senang melihat kedua hometown saya itu maju, yang ditandai dengan bermunculannya bangunan-bangunan pusat perbelanjaan yang mewakili kebudayaan modern disana sini. Tapi disisi lain saya merasa miris juga. Apa iya 15 atau 20 tahun yang akan datang Jogja dan Solo masih mampu mempertahankan kebudayaannya yang sangat luhur dan eksotis itu?

Foto ilustrasi pada guneman kali ini saya ambil di keraton Solo beberapa bulan yang lalu. Lihatlah betapa luhurnya kebudayaan Jawa, terwakili dengan seorang abdi dalem tua berpakaian adat (kemben) yang sedang khusyuk memanjatkan doa ditingkahi kepulan asap kemenyan. Coba sampeyan semua bayangken, di jaman internet sekarang ini masih ada juga yang bakar kemenyan...sungguh sangat eksotik bukan??

Lha kalo mbah-mbah seperti yang ada dalam foto itu sudah mati semua, sementara yang muda-muda lebih tertarik untuk nongkrong di mall, berlomba update fashion ala distro, dan mencoba berbagai variasi rasa kondom daripada ikut berpartisipasi melestarikan kebudayaannya sendiri, trus piye?

Impian saya, 15 atau 20 tahun lagi saya akan mengajak anak saya untuk hunting foto ke tempat yang sama, dan saya ingin anak saya nanti juga masih dapat menyaksikan keeksotikan kebudayaan asli Jawa itu. Tapi apakah impian saya itu terlalu mengada-ada ya? Masih mungkinkah hal itu dapat di jumpai di masa yang akan datang? Haruskah anak saya nanti mengenal kemben dari mall-mall? Kemben yang telah dipadukan dengan rok mini dan sepatu hak tinggi yang ditingkahi kepulan asap rokok dari bibir tipis nan sexy?