06 November 2007

PRIYAYI

Apa yang ada dibenak sodara-sodara semua saat mendengar kata “priyayi”? Kalo saya tanya hal ini pada teman saya si Ndolo, pasti dia jawabnya tempat ngopi tempat biasa kami nongkrong. Tapi bagi sampeyan semua saat mendengar kata priyayi pastilah pikiran akan digiring ke dalam kultur kerajaan pada jaman baheula. Priyayi selalu diasumsikan dengan orang terhormat dan yang berkaitan dengan kerajaan (di Jawa tentunya). Dulu banget di Surakarta ( ya sekitar tahun 1890-an lah), ketika sistem hierarki dalam masyarakat masih kental, priyayi adalah sebuah posisi yang sangat didambakan, bahkan menjadi cita-cita bagi masyarakat umum (waktu itu disebut wong cilik atau kawulo alit). Dalam masa itu Priyayi adalah pegawai pemerintah kolonial (abdining kanjeng Gubernemen) dan abdi dalem Susuhunan(baik parentah ageng maupun keraton). Apapun pekerjaannya, minumnya teh botol sosro..ehh..bukan ding..maksut saya apapun pekerjaannya, mereka yang mengabdi pada raja sudah barang tentu dia adalah priyayi. Kepriyayian pada waktu itu sangatlah dihormati tatkala pusat kekuasaan, raja, dan birokrasi kolonial memonopoli kekayaan-kekayaan simbolik maupun aktual. Ini saya cerita tentang kerajaan di Surakarta lho. Sebagaimana diketahui bahwa keraton Surakarta sangat kooperatif dan openhand terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Menjadi seorang priyayi pada masa itu sebenarnya tidak mudah. Ada beberapa tahapan sebelum seseorang dapat resmi bergelar priyayi. Tahapan yang harus dilewati adalah suwita, magang, dan wisuda. Suwita (mengabdi) ditujukan untuk mengetahui kepribadian (termasuk diantaranya kejujuran, ketekunan, kerajinan, dan kesetiaan) seorang calon priyayi. Sedangkan masa magang lebih ditujukan untuk melatih kemampuan profesional seorang calon priyayi. Setelah kedua tahapan terlewati barulah dilangsungkan acara wisuda menjadi seorang priyayi (gak tau juga pake toga pa nggak).

Perilaku seorang priyayi sendiri sudah diatur sedemikian rupa. Termasuk didalamnya aturan-aturan mengenai berbahasa, gerak gerik tubuh, air muka, kemampuan berbicara, dan moral yang baik. Sangar kan? Gak mudah memang jadi priyayi...

Pengabdian priyayi pada raja adalah mutlak. Bahkan pejah wonten ing sangandaping sampeyan dalem (mati di bawah kaki raja) adalah salah satu obsesi yang diinginkan para priyayi itu. Bagi mereka, mati dibawah kaki sang raja merupakan kamulyan ingkang dipun padosi (kemuliaan yang dicari).

Dalam perkembangannya kemudian muncul 2 macam priyayi, yaitu priyayi kerajaan dan priyayi terpelajar. Priyayi terpelajar diwakili dengan munculnya organisasi Boedi Utomo, yang kalo saya jelaskan secara terperinci disini pastilah sampeyan semua pada menguap karena bosen.

Kini, pada masa modern seperti sekarang ini, saat keraton sebagai simbol budaya telah dikepung dengan keberadaan mall-mall sebagai simbol kapitalisme, tidak ada lagi perbedaan antara priyayi dan kawulo alit (wong cilik). Nggak ngaruh banget gelar-gelar kerajaan macem Raden Mas, Kanjeng Raden Tumenggung, Radenroro, atau apalah...

Banyak wong cilik yang tumindake luwih mriyayeni (tindak tanduknya lebih terhormat) dari pada priyayi beneran, banyak pula priyayi yang tindak tanduknya tidak lebih baik dari seorang bajingan kelas terminal.

* Jangan percaya jika suatu saat ketemu oknum yang ada pada foto diatas dan mengaku dirinya sebagai priyayi. Harap segera lapor ketua RT setempat.

23 comments:

Dony Alfan said...

Makasih atas postingnya, bisa menambah wawasan saya tentang apa itu priyayi.
Trus klo di jaman yang sudah modern ini, apa masih ada untungnya bergelar priyayi?
Mas Sigit, kapan kita nyobain "priyayi mbeling" lagi?

geLLy said...

repoTttnya mau jadi priyayi....

trus klo dach jadi priyayi masih repot lagi ga'..joELL??

untuk jaman sekarang istilah priyayi2 itu masih digunakan ga' joeLL??

Zee said...

wah, gw br tahu klo priyayi bs di-create. dan ada tahapannya lg.

komen ah said...

priyayi kok narsis, genah flasu..

adekjaya said...

mas saya juga priyayi lho...berdarah biru lagi..julukan saya " Sir " lho..asli inggris..

heRRu said...

kirain priyayi itu gelar bangsawan, kayak raden mas gitu, ternyata dikaitkan dengan jenis pekerjaan toh?

ichaAwe said...

potona lutu bangeeetttt....

ada blogger yg namanya priyayi sae ... apakah dia priyayi asli???? *gak nyambung*
aku gak pernah tau sejarah2 ato adat jawa... jawa keraton..duuhh buta sejarah neh

Anang said...

ooo begitu to priyayi itu

Vie said...

Baru tau sekarang apa itu artinya priyayi.

* Jangan percaya jika suatu saat ketemu oknum yang ada pada foto diatas dan mengaku dirinya sebagai priyayi. Harap segera tangkap beliau "dead or alive".

Iman Brotoseno said...

jadi ingat bukunya Umar Kayam,.." Sang Priyayi "..

LifeByYourHand said...

priyayi itu pria dari kelas bangsawan yach ato ningrat ato sering di sebut pri berdarah biru padahalkan dimana2 yg namanya darah yach merah...!

tapi zaman dah modern gitu loch, untungnya apa yach masih make raden ato priyayi ???

teruNe sasaQ said...

kulo yo kyai.. priyayi ndolo, sampun ngeliwati kaleh tahapan, suwita kalean magang, tinggal wisuda insyaallah bulan rolas binjing. nyuwun sepuro, kulo mari wisuda gelare nopo ndolo? Drs, BA, MPd, nopo Doktor? jawaaaaaaaaaab!!!

Sing Duwe Blog said...

@ Doni :Kapok aku nyobain "priyayi mbeling" itu, gak enak blas...wis ra meneh2...

@ Gelly : jaman sekarang sih masih ada juga istilah2 priyayi kaya gitu, cuma efek sosialnya gak sedashyat dulu aja

@ Zee : Ya begitulah menurut yang saya baca mbak..

@ Komen Ah : Yo ben, daripada kowe ra wani nyebutke jeneng..wedi kondang piye??? padahal aku yo ngerti sopo kuwi, hahaha...komandan Ndolo!!!

@ Adekjaya : Luweh Dek, arep kowe priyayi seko Afrika aku yo ra urusan...

@ Herru : Gelar kebangsawanan itu ya Raden, Raden MAs, KRT, KGPH, ato semacamnya...priyayi cuma sebutan aja...kalo gak salah sih, hehehe...

@ Ichaawe : Budhe, makanya sering2 mampir ke sini yah..hehehehe

@ Anang : ya, begitulah mas Anang...

@ Vie : Ampuuunn mbak, saya mending ditangkep alive aja, jangn dead..hehehe

@ Iman Brotoseno : Referensi saya bukunya Kuntowijoyo yang "Raja, Priyayi, dan Kawula" Pak Iman, belom saya tulis disitu ya..maap deh...

@ Lifebyyourhand : "..darah itu merah Jendral..", hahaha...dialog legendaris dari film yang juga legendaris...

@ Terunesasaq : Dapurmu meh wisuda ping piro wae yo gelarmu tetep kuwi, Ndolo, wis ra iso diubah meneh...huahahaha..

makasih semua udah pada mampir...salam hangat..!!!

Augusto said...

priyayi?? setahuku itu yang suka nyanyi diatas panggung.. ada priyayi dangdut, priyayi rock dll... dan satu
lagi, priyayi itu yang suka dakwah.. yang sering ke masjid.. :))

BUDI SANG SUPERBEJO said...

postingan yang baguss,
menurut budi sang superbejo,
sosok priyayi dulu dan sekarang itu beda,
kalau dulu seorang priyayi itu memang bener priyayi karena segala tindak tanduknya mencerminkan priyayi, tapi sekarang?
hanya perilaku demagogi saja
bersembunyi di belakang muka priyayi
padahal hanya seorang sugali

kw said...

lha gelarmu opo njul?

NN said...

Walah ko cover boy pake belangkon, tapi lucu juga pak ;)

CempLuk said...

wah dapat nambah wawasan nih..thanks

lovelydee said...

Ha3x ternyata emang narsis bgt!! Oh, buat bahan postingan to bukunya..

Btw, mo nambahin dikit, biasanya priyayi itu punya gelar. Ada gelar yang ascribed status alias diperoleh sedari lahir (turunan raja dan yang masih sealiran darah degn kerajaan)maupun yang achieved status, yang diperoleh karena pencapaian/prestasi atau setelah melewati tahapan suwita dan magang tsb. Ascribed status, diperoleh klo seseorang mjd 'abdi dalem' kerajaan. Ada jenjang karir abdi dalem. Klo udah sampe ke jenjang abdi dalem yang tinggi dan tertinggi dan dia punya loyalitas tinggi, seseorang itu bakal dapet nama -ningrat dari Raja.

Tapi emang gelar dan nama2 kepriyayian itu tidak begitu ngefek saat ini..Kadang malah risih dipanggil "Den.." dan aneh mendengar sebutan Romo Kanjeng.

Priyayi emang bukan orang sempurna. Mereka juga cuman manusia biasa. Tapi, kita bisa ambil yang baik2 dari kehidupan priyayi, yaitu unggah-ungguhnya..bicaranya tertata, alus dan sangat menghargai lawan bicara...

Bukan begitu Sayangku??

lovelydee said...

Ralat, untuk baris ke-8, "Ascribed status, diperoleh.." seharusnya ditulis "Achieved status, diperoleh.." harap maklum.. ;p thanks!!

Ely Meyer said...

blangkone ra nguati, tapi ketok bener kok soko fotone , sampeyan iku memang priyayi ^_^

Ros Marya Yasintha said...

astagaaa....
foto dirimu itu lohhhhh, gaya nya
sangat tidak priyayi...:P
hehehhe becanda :)

thanks joell, saya jadi tau deh apa itu priyayi :)

Jiewa said...

Ciehhh,.. lama ga kesini, ternyata sudah ramai ! Congratz.
Fotone apik, ijonya itu lho.. enak dipandang.

 
;