24 November 2007

Pengamen Cilik dan Artis Cilik

Kedua subyek diatas sama-sama memiliki predikat “cilik” dibelakangnya. Profesi dari kedua subyek tadi juga sama-sama bertujuan menghasilkan uang. Dan yang terpenting adalah mereka sama-sama harus kehilangan masa kecil mereka.

Masalah eksploitasi anak baru-baru ini hangat lagi muncul ke permukaan. Seiring dengan huru-hara yang menimpa keluarga Ahmad Dhani dan Maia Estyanti. Masih terekam jelas ketika mbak Maia ngobrak-abrik lokasi syuting anak-anaknya. Masalah huru-hara ini sampai melibatkan sebuah komisi yang melindungi hak-hak anak (KPAI bukan ya??).

Menurut saya yang goblok ini, seharusnya Komisi itu menambahkan kata “artis” dibelakang namanya : Komisi Perlindungan Anak Artis Indonesia. Lha gimana to, kalo memang benar-benar berniat melindungi hak-hak anak di Indonesia, itu di perempatan-perempatan jalan banyak banget anak-anak yang harus dilindungi hak-hak mereka. Bukan hanya anak-anak para selebritis yang hobi kawin cerai gak jelas yang harus serius ditangani dan dilindungi. Bahkan ancaman bagi mereka yang di jalanan itu lebih nyata.

Tentang orang tua yang mendaftarkan anak mereka di sekolah-sekolah modelling, dan mendaftarkan anak mereka di casting-casting sinetron tanpa ada niatan yang kuat dari si anak sendiri, dengan orang tua yang menyewakan bayi mereka sebagai properti mengemis di perempatan jalan, apa bedanya coba?? Mereka, lagi-lagi menurut saya, sama-sama mengeksploitasi anak mereka. Merampas hak hidup anak-anak mereka demi memenuhi ambisi orang tua, menjijikkan....

Kalo alasan kebutuhan ekonomi (para eksploiter anak jalanan) yang dikemukakan, lagi-lagi menurut saya itu tidak bisa diterima. Dengan menikmati proses pembuahan saja tanpa ada pertanggungjawaban pada hasilnya, itu adalah sebuah tindakan yang katrok, ndeso, njelehi, dan ya ampun amit-amit deh... Seharusnya sebelum "uh ah uh ah" bikin anak, mereka sudah harus mempersiapkan segalanya untuk merawat anak mereka. Kalo toh harus memperoleh penghasilan dari mengemis di jalanan ya jangan libatkan anak-anak dong. Biarkan anak-anak berkembang dan kalo bisa jangan mewariskan profesi hina itu pada anak-anak, mereka pantes mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mengemis adalah selemah-lemahnya usaha.

Sedangkan orang tua yang menyuruh anaknya jadi model atau artis sinetron...mmm... kenapa saya begitu yakin bahwa pemikiran anak kecil belum sampai pada popularitas yang didapat, apalagi uang berlimpah yang bakal dikeruk seandainya mereka jadi artis. Jadi menurut saya (lagi-lagi..bosen gak sampeyan pada kata2 ini?) yang mencetak meraka untuk jadi artis itu adalah orang tua mereka, dan para artis cilik itu hanyalah victim saja, korban obsesi orang tua mereka yang ngiler pada segala pernak-pernik duniawi yang menyilaukan.

Sekarang giliran KPAI tadi, halo Pak dan Bu yang mentahbiskan diri sampeyan sebagai pelindung anak...sampai dimana kerja sampeyan? Apa langkah nyata sampeyan untuk melindungi hak anak-anak Indonesia? Apakah sampeyan bekerja atas dasar hati nurani sampeyan yang benar-benar bertujuan mulia melindungi hak anak-anak Indonesia, ataukah sampeyan hanya bekerja demi uang dan popularitas? (lumayan kan sampeyan jadi sering masuk tipi). Atau jangan-jangan sampeyan bekerja di Komisi itu karena dorongan dari orang tua sampeyan, padahal sebenarnya sampeyan pengennya jadi artis??? Anda termasuk tereksploitasi berarti...hahahaha.....

Saya nggak bermaksud menyerang siapapun atau institusi manapun, saya nulis ini karena tadi siang (24/11) diperempatan Gramedia Jogja, ada seorang gadis cilik dengan pakaian lusuh dan rambut memerah kepanasan, yang kira-kira seumuran ponakan saya yang masih TK, menengadahkan tangannya untuk meminta receh pada mobil di depan saya. Sialnya lagi gak ada respon dari si pemilik mobil Baleno plat H itu.



21 comments:

heRRu said...

pertamax!

pemerintah kita memang begitu mas, mancla mencle, kalo punya uang dan publikasi baru diperhatikan dan dilindungi kalo enggak, kelaut ajah :P

ichaAwe said...

yah mungkin orang tua yg maksa anak2nya jd artis itu dulunya cita2 jd artis tapi gak kesampean.... yah drpd sama sekali gak kesampean..mumpung masih idup, yah maksain anak mereka yg jd artis.

kalo soal penanganan pemerintah tuk anak2 terlantar...susyeh deh...cape kalo mo dibahas.
Tapi yg bgituan gak di indonesia aja kok... aku sendiri disini, terpaksa hrs nampung 2 anak *dr iparku* yg cerai...dia dgn enaknya kawin lagi dengan suami baru, anak2nya ditelantarin..bukan alasan ekonomi ...tapi karna memang dia gak mau lagi sama anak hasil hubungan dengan suami lamanya ...
naudzubillah...
yg parahnya...kami udah gugat ke badan hukum...tetep aja mpe sekarang gak ada tindak lanjut...
yah bgitulah...gak dimana gak dimana... sial!!!!

aroengbinang said...

ambisi yang mebuat jiwa lapar, dan yang perut lapar sama-sama berpotensi mencari saluran yang mboten-mboten.

kehidupan tak pernah sempurna, karenanya ayo menikmati dan mensyukuri apa yang ada, sambil terus telaten membenahi yang mboten2 itu :D, salam.

GHATEL said...

Inilah Indonesia kalo ngg' ada duit ya ngg' dilindungi, kalau ada duit baru dilindungi....

aLe said...

untung aku bukan artis *halah*
tp kpengen jd artis *ngarep.com* :P

btw, apakah negara kita ntar bisa 'benar2' jadi negara maju ya klo situasinya seperti ini terus.

suarahimsa said...

semua ini dikerangkai oleh kekerasan negara yang struktural. negara melakukan pembiaran terhadap publik dalam memenuhi kebutuhan pokoknya. kemiskinan tampaknya menjadi fokus yang harus terus kita cermati. masalah ini sangat kompleks, kita gak bisa menyalahkan salah satu pihak agar bertanggung jawab.kita perlu memandang masalah ini lebih komprehensif lagi, gak bisa dipilah-pilah. memang kasus yang paling manifest adalah anak-anak yang mengalami trafficking, dijadikan aset oleh orang tua mereka, tetapi akar permasalahnanya masih rumit. wah gak bakalan cukup kalo mau dibahas disini. ide sampeyan menarik.kapan2 kita diskusi. em,tentang KPAI, em kalo gak salah formatnya sebagai lembaga advokasi, jadi yang mendapat pembelaan ya yang melapor. gak bisa dong, kalo misalnya KPAI disuruh menangani permasalahan anak2 jalanan di Indonesia. coba anda bayangkan, di Jogjakarta ada berapa jalan besar ? jumlah komunitas anak jalanannya berapa, trus berapa orang yang mau ngurusi masalah anak jalanan ini? mumet bro..aku pikir, mereka perlu diberdayakan, bisa jemput bola dalam mengatasi masalahnya, syukur bisa meng-class action-kan masalah ini ke Polda, dengan Menkokesra sebagai tersangka.ha.ha

Agaz said...

terlepas dari oknum yang mengekploitasi anak..sebelumnya ada pertanyaan yang menggelitik dalam hati saya.. yang dimaksud dengan "uh ah uh ah" bikin anak itu apa? di jogja ada gramedia to njul? wah tulisanmu setiap hari makin keren aja njul... hebat..salut..

geLLy said...

aku bs memahami seandainya aku di pihak km yg lagi melihat anak kecIL yg mengameN di jalaNlan itu..setiap org yg melihatnya pasti tersayat N tercabik
,sebelumnya aku salut ama km yg masih peduli N mau menyuarakan jeritan mereka...tp siapa di sini yg di salahkaN rakyat'e karo negoron'e podho wae alias sami mawoN...jadi ...ga' ada yg salah N ga' perlu saling menyalahkaN..yg ada kurang memahami aja...

negara kita juga sadar betuL masalah hak2 anak,
terutama anak2 jalanan yg kurang mendapatkan perlindungan,penghidupan N pendidikan yg layak itu...sementara para ortu yg kurang tanggung jawab aH uH aH uh...yg akirnya si anak harus merasakan perih N kejamnya dunia.. itu mank pengeN di hormati si anak nntnya kok gRRrrrr...

DrGa said...

ada satu yang ketinggalan mas....

Keduannya baik artis cilik maupun pengamen cilik (mungkin) sama-sama tidak memperhatikan pendidikan mereka sendiri yang notabenya untuk masa depan mereka.

Mereka justru disibukkan oleh obsesi para ortu.

Hasilnya pun sama-sama dapat kita lihat...terciptanya Wong cilik yang layu sebelum berkembang

kw said...

di jaakrta banyak banget.... jadi mana yang perlu beneran mana yang gaksusah bedain hehe

Iman Brotoseno said...

orang tua yang kadang ambisius dengan sisi mencari popularitas ini, saya sudah capai kalau ketemu orang,.
" Mas.anak saya bisa nggak ..
" ini photonya.."

Zee said...

Wah, berarti sama aja wkt gw k bandung kmrn. di dpn fo2 itu yg jualan anak-anak kecil semuaa!!

Peminta2 dgn kedok penjual koran, krn gw yakin bener tujuan 'bos gepeng' memakai anak2 adalah biar org jatuh iba lalu memberi sereceh 2 receh, tanpa perlu membeli koran tsb.

But Joel, byk anak-2 sd yg menyambi minta2 itu, memang suka & nyaman jadi pengemis. Setiap sore biasanya pada nukar recehan ke warung-warung, & bs dapat 100-200rb/hari. Bg yg tidak perlu setor ke Bos, uang itu dipakai utk ke rental ps or ngelem sambil minum-2.

Memang siy tdk semua begitu, byk juga yg melakukan krn terpaksa. Dan ini ga akan begitu saja hilang even thn depan akan ada perda, didenda 20jt bagi yg memberi sedekah pd pengemis-2 di jalan.

RMY said...

Menurut saya banyak pengemis cilik itu memang menikmati hidup mereka..Karena mereka gak harus dibebankan dengan tugas sekolah dan kewajiban belajar..Saya pernah membaca blog seseorang (saya lupa link nya) bahwa pengemis pun punya HP yang lebih modern dari pada dia yang dimintai..Jadi pengemis sudah di jadikan profesi bukan keadaan yang harus di ubah..

Kalo artis-artis cilik kan memang mereka punya bakat yang dikembang kan dan mereka tentu saja tidak meninggalkan sekolahnya, jadi menurut saya sah-sah saja kalo artis cilik juga meraup keuntungan materi yang berlimbah sewaktu dia mengasah bakatnya itu..

Dan saya sangat mendukung Peraturan Daerah yang melarang memberi sedekah kepada pengemis di jalan2. Pengemis2 cilik itu gak akan mikirin kewajiban mereka untuk meningkatkan diri dengan belajar, karena sibuk mikirin duit recehnya mau dibeliin apa.

cak hen said...

Itu benarrr saya mendukung anda ,karena di Indonesia ini banyak sekali kemiskinan ,menurutku apabila ingin merubah bangsa ini rubahlah dari dirimu sendiri

Pitshu said...

g kadang klo liat pengamen cilik gitu, suka ga g kasih. Soalnya liat ibunya duduk2 dibawa poon, anaknya seliweran sana sini. Lagian sekarang di Jakarta katanya udah ada peraturan ga boleh ngasih pengamen dan tukang mintak2 yang di lampu merah bisa ke na tilang ^^

walaupun itu aturannya masih lom resmi atau lom jelas, tapi ada beberapa polisi yg udah manfaatin hal itu buat cari duit ^^. Jadi sekarang tua muda, cacat atau sehat ga ngasih ^^

Dony Alfan said...

Itu sih kembali lagi tergantung anaknya, klo dia pengen melakukannya ya tidak ada yang perlu disalahkan. Lain critanya kalo ada unsur paksaan disitu.
Tapi tahukah anda, tidak semua anak jalanan itu kere, bisa jadi penghasilan mereka per bulan melebihi saya -yang kere kuadrat ini.
Dulu pernah ada survay thd anak jalanan di ibu kota, ternyata kebanyakan duit yang mereka dapat di jalanan memang untuk bersenang-senang, seperti main PS dan nge-lem; meski ada pula yang bener2 dipake buat sekolah.

* Di blog ini makin susah aja ya pasang komen nmr satu, alias pertamaxxx!

Muhammad Mufti said...

Kasihan, anak2 dijadikan korban untuk kepentingan tertentu. Pengamen cilik di jalan pun mungkin karena ulah oknum tertentu dijadikan alat untuk mencari uang sebagaimana artis cilik. Kalo dapat uang banyak yang senang adalah orang yang ada dibelakang anak2 itu.

Vie said...

Wah mamiku dulu sering mengeksploitasiku dulu, suruh nyupir (nyuci piring), jaga adik-adikku yg bandelnya naudzubillah, suruh aku ngasih makan ayam juga. Itukan eksploitasi kan? Sama gak ya?

adekjaya said...

Saya nggak bermaksud menyerang siapapun atau institusi manapun, saya nulis ini karena tadi siang (24/11) diperempatan Gramedia Jogja, ada seorang gadis cilik dengan pakaian lusuh dan rambut memerah kepanasan, yang kira-kira seumuran ponakan saya yang masih TK, menengadahkan tangannya untuk meminta receh pada mobil di depan saya. Sialnya lagi gak ada respon dari si pemilik mobil Baleno plat H itu...

emang kenyataan kok..anak2 jadi sumber eksploitasi..hukum yang melindungi anak2 apakah sudah dilaksanakan dengan baik??

lha mesti kowe sikape yo koyok pengemudi baleno itu kalo liat pengamen cilik to??ngaku ae...

jhal said...

waduh mbah... ngomong soal pengamen aku inget waktu masih remaja mbah... sering berkelana ngamen kemana-mana... dan yang paling aku inget waktu aku sama temen-temenku mempelopori ngamen di perempatan kota probolinggo kotaku... sampai tengkar sama polisi, pengamen baru yang maksa mengexploitasi area kami meski mereka udah dikasih jam tertentu... waktu itu cuma dalam waktu +- 2jam bersih dapet 30rb belum rokok dan makanan... tau gak itu semua cuma buat beli makanan untuk ronda... nasib-nasib

Anonymous said...

Hehehe... jadi pengamen itu duwite okeh tenan lo. Memang penampilane lusuh, gak karuan, mesakke. Kelihatannya banyak yang gak kasih, tapi yang ngasih duwit juga banyak lo. Yang pasti makan 3 kali nasi padang bisa, ngrokok bisa, beli tv bisa, kredit motor bisa... Makanya banyak orang tua yang malu ngamen atau ngemis minta anaknya ngamen atau ngemis, gitu lo lik.