01 February 2008

Agama dan Budaya.

Hahahaha...pasti si Andik dan Doni mesam mesem liat judul guneman saya kali ini. Ada salah satu diantara mereka yang menganggap agama adalah bagian dari kebudayaan, itu sah-sah aja. Semua orang boleh beropini, dan tidak ada yang melarang orang kreatif dengan isi otaknya. Masalah kepercayaan(agama) itu adalah hak paling asasi manusia, kalopun di Indonesia hak yang paling asasi itu hanya dibatasi dengan 5 pilihan, dari dulu sejak saya lahir sudah begitu, dan sayapun tidak berminat untuk menggugat keadaan tersebut. Kebetulan kepercayaan yang saya pegang dan yakini saat ini ada dalam salah satu dari 5 pilihan yang disediakan pemerintah itu, jadi paling tidak saya terhindar dari cap “sesat” yang sekarang marak banget dianugrahkan pemerintah pada beberapa aliran kepercayaan yang hidup di Indonesia.

Saya orang yang beragama, namun saya juga sangat menghargai keberadaan budaya. Saya menempatkan kebudayaan dan agama itu dalam ruang yang berbeda karena menurut saya itu memang beda. Ditilik dari asal mulanya saja itu sudah lain. Agama berasal dari Gusti Alloh kang Murbeng Dumadi yang diturunkan lewat para Rosulnya dan disebarkan oleh para nabi dan para wali. Sedangkan budaya dari namanya saja sudah kelihatan, budaya –budi dan daya- yang berarti segala budi dan daya hasil karya cipta manusia yang kemudian diwariskan secara turun temurun dan menjadi sebuah karya yang agung yang melekat dalam masyarakat sekitar. Budaya lahir dari hasil interaksi sesama manusia, budaya dapat beraneka ragam, budaya dapat diperoleh dengan cara belajar, budaya juga memiliki sifat yang dinamis dan dapat berubah sesuai dengan tuntutan dan keadaan jaman.

Dari situ saja sudah jelas perbedaan antara budaya dan agama. Bukankah Agama itu tidak akan pernah berubah tuntunannya dan fleksibel sesuai dengan tuntutan jaman? Mesti selalu begitu karena agama itu diturunkan oleh Tuhan sudah kontekstual dengan kondisi jaman hingga sampai pada the end of the world besok. Itu sangat bisa dan sangat tidak terbantahkan, karena saya yakin Tuhan (apapun dan siapapun itu dalam kepercayaan sampeyan) Maha pintar, Maha tahu dan Maha segalanya. Tidak mungkin Tuhan melakukan kesalahan dalam menurunkan sebuah tuntunan untuk umatnya sehingga merasa perlu untuk diamandemen. Sampeyan tidak mau dikatakan bahwa Tuhan sampeyan bodo kan???

Bagaimana dengan Maulid Nabi? Apakah itu salah satu acara agama atau sebuah kebudayaan? Seperti kita tahu bahwa Maulid nabi bertujuan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Jogja dan Solo sendiri selalu diadakan acara grebeg untuk memperingati maulid nabi. Saya pernah baca dulu tentang asal mula Maulid nabi, bahwa sebenarnya tradisi itu mulai muncul pada masa perang Salib. Maulid nabi dimunculkan oleh pemerintahan masa itu untuk mengobarkan semangat pasukan Muslim. Nah Maulid nabi masih saja dirayakan sampai sekarang namun dengan bentuk dan tujuan yang sudah lain. Dari sini kita bisa berkesimpulan bahwa Maulid Nabi bukanlah acara keagamaan, namun murni sebuah acara budaya yang berasal dari daya cipta, rasa, dan karsa manusia.

Itulah kira-kira opini saya sebagai orang yang beragama dan mencintai budaya.

35 comments:

biaca said...

Ass...atu tak tomen juga yah o-om, walau atu macih ingucan...ehe....,menulut atu agama (baca:Islam) itu ada juga budayanya o-om, BUDAYA ISLAM namanya..ehe..., tapi ada juga lho budaya non Islam, yg o-om bilang adi...ehe...., oiya calam enal yah o-om..o-om guneman...., maap yah o-om, atu cuman omen anak ingucan gitu lho...

anggarov said...

ikutan ngegunem,
hal senada sempat saya lontarkan ke forum taklim yang sering saya ikuti..
walhasil, mereka memandang saya dengan wajah bingung, kenapa hal seperti itu saya tanyakan...

nah intinya, mungkin dulunya pendekatan pendekatan kebudayaan dilakukan untuk penyebaran agama( karena ga ada media massa seperti jaman sekarang)..

nah itu dulu, sekarang semua lebih gampang dalam mempelajari apaun dari manapun termasuk agama.

sehingga kita harus hati hati mengatakan sesuatu itu suatu kebudayaan, kita harus lihat esensinya. melibatkan suatu prosesi peribadahan ga didalamnya? ada tuntunannya ( quran atau hadist misalnya?).

jadi sebagai orang yang beragama mohon berhati hati dalam mensikapi budaya.

Dony Alfan said...

Sebelumnya si atheis itu juga pernah memberi argumennya. Dia membagi agama itu menjadi dua, langitan dan bumi.
Agama langitan itu contohnya seperti agama2 Samawi yang diwahyukan dari "langit". Sedangkan agama bumi, memang berasal dari bumi, contohnya seperti Buddha.
Untuk argumen yang di atas, saya agak setuju. Lebih dari itu, nanti dulu...
Dialog dengan si atheis itu emang bikin sesuatu jadi lebih ribet dari kemasan sebenarnya.

Cekap semanten atur kulo, matur suwun

Pitshu said...

klo perayaan2 gitu g anggapnya juga budaya agama lho...

:)

Anang said...

yang penting ayo kembali kaffah.... ilmunya harus dipelajari.. tadi siang dapat ceramah jumat, pilih ngamalin ilmu yang didapet dari kitab suci atau dari nenek moyang?

Rey said...

setuju... aku juga (berusaha) menempatkan agama dan budaya, masalahnya, di negaramu ini, kadang gak jelas mana yg agama, mana yg budaya. Gak usah deh jauh2 ke upacara Maulid Nabi, tahlilan org meninggal yg 7 hari, 100 hari, 1000 hari, dst, itu kan budaya juga, di-Islam gak ada tu kyk begitu.

Rey said...

halah... maksudnya menempatkan agama dan budaya dlm ruang yg berbeda, kesusu sih ngetiknya... :)

iman brotoseno said...

mungkin jelasnya, agama dan budaya menjadi simbiosis mutualisme..saling berkaitan.
Untuk di Indonesia, pemilihan memasuki ruang budaya menjadi jalan paling efektif untuk siar dan membumikan agama. Khusus Islam,Justru kita harus membedakan budaya arab dan Islam sendiri. Ini menarik juga bahwa di Jawa juga kadang dioframa Natal kadang digambarkan Maria dan Yusuf digambarkan berparas / pakaian ala Jawa.

ichaAwe said...

dimesir sini..maulid nabi juga dirayain lumayan rame..
banyak juga makanan2 khusus yg sengaja dibuat , tuk ngerayain maulid nabi ..yah kayak ketupat ajah degh diindonesia...kenapa kalo lebaran..pasti pada bikin ketupat...pdhl dinegara lain gak...

geLLy said...

yuP agama suatu keyakian pribadi N budaya hasil dari daya dan cipta,tp cara penyampain N penyebaran agama juga ga' jauh dr hasil daya cipta..ex:"wayang kulit de el el" ehhh ternyata agama budha itu macem2 cara sembahyangnya....N tiap daerah beda2,di daerah sekitar himalaya itu blh makan daging N arak khusus biksunya tp untuk daerah lain ga' blh..sempat aku tanya katanya perbedaan wilayah, N pegaruh budaya...jadi agama N budaya itu mungkin masih saling berkaitan...keyakina ttp satu tp ga' lepas dari pengaruh budaya

lintang lanang said...

masalah 'tuhan dan sekitarnya' memang tak akan ada habis2nya untuk dibicarakan. mulai dari masa pra sejarah, hingga masa dimana 'blog' sudah menjadi makanan sehari2 inipun, persoalan yang satu ini tak akan pernah basi. hal ini membuktikan, bahwa manusia adalah makhluk yang berpikir, yang membutuhkan keberadaan zat yang maha besar untuk 'bisa' dijadikan jawaban atas segala pertanyaan2 yang dijumpainya.

mungkin saya ingin sedikit meralat ucapannya saudara doni. saya memang pernah menulis tentang agama langit dan agama bumi, tapi frase itu sama sekali tidak merujuk kepada agama samawi (yahudi, kristen islam) dan agama2 (yang dipercaya sebagai anak kandung) budaya, seperti hindu, budha konghucu, kejawen, dll, karena saya adalah salah satu orang 'yang tidak setuju' dengan penggolongan semacam itu.

penggolongan semacam itu adalah salah satu bentuk arogansi dari pihak 'agama langit' untuk menunjukkan bahwa agama mereka lebih tinggi derajatnya (karena dianggap langsung turun dari tuhan) dibandingkan agama bumi (yang 'dipercayai' terlahir dari budaya manusia).

yang saya maksud (dalam tulisan saya) sebagai agama langit adalah agama yang bicara secara dogmatis tentang surga, pahala, dosa, dan hal2 'langit' lainnya. menurut saya agama semacam ini tak lebih dari sekedar penyakit masyarakat yang hanya sibuk mengajari bagaimana cara bermimpi dan imajinasi. sedangkan agama bumi adalah agama yang bisa membumi, dalam artian bisa dijadikan (atau setidaknya bisa dipakai untuk mencari) solusi permasalahan hidup sehari2. saya mohon maaf, jika keputusan saya dalam menggunakan frase itu melahirkan kerancuan dalam proses pembacaan.

mungkin tidak ada salahnya juga jika kita mulai belajar tentang apa yang disebut sebagai 'atheis', dan kemungkinan keberadaan kaum 'agnostik', yang 'sebenarnya' mempercayai keberadaan tuhan (yang mungkin konsepsinya tidak sama dengan konsepsi tuhan di agama2), tapi mempercayai bahwa keagungan tuhan tidak mungkin dapat dipahami dalam institusi2 resmi (dalam hal ini agama), dan karena itu lebih memilih abstain, tidak berafiliasi dengan agama appun, (meski hukum di negeri ini memaksa setiap warga negaranya untuk mencantumkan keyakinannya di lembar kartu tanda penduduk). dengan memahami itu, kita akan lebih bisa memahami perbedaan antara 'tuhan semesta' dan 'tuhan sejarah'

saya secara pribadi tidak akan pernah mempermasalahkan apapun keyakinan masing2 dari diri kita tentang tuhan, agama, keyakinan, kitab suci, dan lain sebagainya. saya juga tidak akan pernah berusaha menyebarkan propaganda anti tuhan dan agama. menurut saya, apapun yang kita lakukan, dan apapun yang kita percayai, alangkah indahnya jika tidak memandang sebelah mata apa yang disebut sebagai perdamaian.

dan alangkah lebih indahnya, jika kita sebagai manusia benar2 mengoptimalkan kemampuan olah pikirnya untuk benar2 mencari apa yang selama ini tersembunyi, dan tidak sekedar berhenti ketika menemukan jalan yang dirasa buntu lalu mengucapkan mantra aji yang mengatakan bahwa 'sesuatu' itu adalah sekedar takdir.

buat mas sigit, saya tetap pada keyakinan saya mas. bahwa agama adalah anak kandung budaya.
(he3... kapan ki bisa diskusi sambil wedangan lagi...)

Ani said...

Memang agama dan budaya adalah dua hal yang berbeda. Tetapi, pada jaman dulu, justru untuk mengembangkan agama, para ulama memakai budaya sebagai jalannya.

Mufti AM said...

Segala sesuatu yang tidak sesuai dengan kaidah agama mestinya akan dihapus secara perlahan-lahan, namun para wali keburu wafat dan program berhenti ditengah jalan. Sehingga ruang yang seharusnya berbeda bagi agama dan budaya akhirnya menjadi tak kentara.

Agaz said...

wis ra keduman papan kango komen.. wis entek spacenya... btw.. melu nonton sik koment wae.. tapi aku ngacung!! aku beragama loh git!!

sluman slumun slamet said...

yah, masalah agama dan budaya menjadi sangat menarik untuk dikupas. asal tidak saling meng"ALIRAN SESAT"kan pendapat orang lain saja.
agama dan budaya jelas beda. hati2... ISLAM beda dengan ARAB....
saya malah sering tersenyum melihat tingkah polah orang2 yang baru paham agama dan MENELAN mentah2 teks2 yang ada.


salam,
slamet yang tidak pakai celana cingkrang!

ardyanstyle said...

agama? isih usum toh mas. tak kirain dah lewat :D

koboi urban said...

mas joel, jangan kebanyakan diskusi sama lintang lakang..bisa murtad sampeyan nanti hahaha!

ditunggu lagi bal-balannya di kampus :D

"The root of all evil is the heart of a black soul. A never ending search for a truth never told" (Slayer - South of Heaven)

fales said...

nimbrung ple...
agama samawi menurut gw bukan lah bagian dari kebudayaan, karena Agama samawi lahir bukan karena kehendak, akal, keinginan, intuisi, ataupun proses kehidupan manusia, tapi lahir langsung diturunkan Allah SWT melalui perantara Nabi dan Rasul. sedangkan kebudayaan lahir dari sifat kolektif dalam suatu masyarakat yang terus berubah seiring waktu dan kesepakatan dari masyarakat itu sendiri. Dapat dilihat bahwa Agama samawi lahir dengan memberikan teguran yang keras terhadap kebudayaan yang ada saat itu. Agama samawi bersifat kontra terhadap kebudayaan yang ada baik itu dalam hal Aqidah (ketuhanan) maupun berkehidupan sosial.

NoeLoe said...

Nice post ! Agreed with U. Pendalaman yang bagus soal agama dan budaya mas....

lintang lanang said...

4 fales:

'...lahir bukan karena kehendak, akal, keinginan, intuisi, ataupun proses kehidupan manusia, tapi lahir langsung diturunkan Allah SWT melalui perantara Nabi dan Rasul...'

memang seperti itulah yang tertulis di kitab2 suci dan dipercayai kaum religi.

lintang lanang said...

untuk lebih bisa memandang dan memahami sesuatu, alangkah lebih baiknya jika kita keluar dari sesuatu itu sendiri dan mengambil sebuah jarak tertentu agar bisa melihatnya dengan pandangan yang benar2 'lepas'.

seperti kita yang 'harus' ada di bumi agar bisa menatap kerlip gemintang di awang2, yang tak mungkin kita nikmati jika kita mendekam di bintang itu sendiri.

Andri Kusuma Harmaya said...

Wah...kuq labelnya bacaan ringan to mas?Menurutku sih ini termasuk bacaan lumayan berat,soale kan menyangkut agama...Sensitif lho mas...hohoho ^o^
Saya setuju,bahwasanya agama dan budaya itu berbeda.Tp saya pikir keduanya bs berjalan beriringan kuq,tanpa ada salah satu yg harus dikalahkan.
Menurut saya,agama cakupannya lebih luas,meliputi hal2 yg mungkin oleh budaya tidak terpikirkan.Demikian komentar dari saya.
Salam kenal. ^_^

arif rahmawan said...

tak kira bacaan ringan, tiwas mlebu, jebul isinya Agama dan Budaya, iki bacaan abot. meskipun hanya guneman. Setahu saya dulu para Sunan menggunakan budaya setempat untuk media dakwah agama Islam, soal bid'ah atau kurafat,wallahu alam...

nexlaip said...

assalammualaikum, wah bahasan yang menarik.....budaya yang bertentangan dengan agama biasanya tidak digunakan tetapi yang masih sesuai dengan agama biasanya dipakai untuk membantu mengenalkan agama. biasanya yang sesuai dengan agama itu adalah yang baik

como said...

ikut andil ah biar rame...
saya setuju dengan argumen mas lintang lanang : agama adalah produk budaya, begitu juga science. Agama merupakan produk manusia yang dikatakan sudah civilized. Menurut kaum Cartesian (orang yang pola pikirnya dipengaruhi "cogito ergo sum"-nya Rene Descartes)wujud pencarian manusia terhadap hal-hal yang diluar kemampuan berpikir logisnya, menyebabkan manusia itu"ada" karena terus "berpikir". Menurut sejarah, ketika orang pra sejarah sudah menganut animisme dan dinamisme, mereka sudah dikatakan berbudaya. Ketika Orang Yunani-Romawi masih dipengaruhi mitologi tentang dewa,mereka juga telah berbudaya. Kalo kita sedikit menilik ke depan,orang pasca modern dituntut untuk berpikir sesuai logika dan nalar ilmiah. Bisa jadi masa depan agama hanya ada satu yaitu science, yang semakin menegaskan bahwa agama adalah sebuah produk budaya. mohon tanggapan balik....he.he.

lintang lanang said...

mas como, ga usah masa depan. sekarang aja udah lahir agama baru. yaitu : UANG !!!
ha3...

anangyb said...

islam itu budayaku, karena katholik (terlanjur menjadi) agamaku.
Lha wong tiap kali upacara bendera, ikut seminar ini itu, atau ada tamu dateng semua pada ngucapin assalamualaikum je...

Lebaran juga gitu, saya pasti sekeluarga keliling ndeso, hatur sugeng riyadi dan maaf-maafan.

25b said...

saya rasa adalah sebuah budaya yang dikawinkan dengan agama, untuk mencapai existentsi dari agama tersebut, bukan murni budaya. thanks

Aluguel de Computadores said...

Hello. This post is likeable, and your blog is very interesting, congratulations :-). I will add in my blogroll =). If possible gives a last there on my blog, it is about the Aluguel de Computadores, I hope you enjoy. The address is http://aluguel-de-computadores.blogspot.com. A hug.

The Bloke said...

saya termasuk yg berpendapat agama bagian dari budaya. habis kalo dipikir" budaya berpengaruh pada "pelaksanaan" agama, dan agama-pun berpengaruh pada budaya setempat. :)

salam kenal :)

barb michelen said...

Hello I just entered before I have to leave to the airport, it's been very nice to meet you, if you want here is the site I told you about where I type some stuff and make good money (I work from home): here it is

michaeljubel said...

menarik juga ulasannya.. tapi gak bisa dipungkiri bahwa faktanya budaya dan agama tuh saling mempengaruhi lho.. hehehe..

suket said...

agama adalah bagian dr budaya, budaya adalah bagian dr agama.
Kalo di indonesia, khususnya jawa, antara budaya dan agama gak bisa dilepaskan begitu saja. penetrasi agama mempengaruhi kebudayaan, begitu jg sebaliknya. saling silang itu justru membuat indah nuansa kehidupan sosialnya, agama dan budaya bisa dijadikan guide untuk memayu hayuning bawana :)

ngatini said...

wah..aku lagi atheis.. tapi belum dicap 'sesat' karena masih punya KTP warisan dari orang tua..
semoga aku menemukan jalan yang benar..

tutur tawa said...

Kbetulan aku sorang agnostic... Ak ma tmen2 malah bikin Indonesian Agnostic Facebook Group, http://www.facebook.com/home.php?#/group.php?gid=70781490090&ref=ts

Ak jdi agnostic stlah ak blajar hampir smua agama...

 
;