31 July 2007 4 comments

Pamer Karya


Sebagai seorang pehobi dunia jepret menjepret, tentu saja saya punya angan2 buat bikin suatu pameran photo sendiri. Selama ini saya hanya sering pameran bareng temen2 saya, yang tentu saja saya gak bisa nentuin sendiri apa temanya dan kriteria2nya. Tingkat kepuasan berpamer (???) gak bisa optimal kan..bisa dibilang saya jarang menemukan orgasme saat usai pameran,hahaha..makanya demi mengejar orgasme2 yang telah lewat, saya pengen sedikit pamer karya disini. Salah satu karya saya diatas merupakan salah seorang abdi dalem kraton Solo(Surakarta). Bukan karya terbaik saya memang, tapi boleh lah buat ikutan nampang di blog sampah saya ini..silakan menikmati dan silakan mengomentari. Foto diatas dapat juga dijumpai di http://www.fotografer.net/isi/galeri/lihat.php?id=461420
28 June 2007 8 comments

Ngelmu Pring


PRING PODHO PRING
ELING PODHO ELING
ELING DHIRINE
ELING PEPADHANE
ELING PATINE
ELING GUSTINE
PRING IKU MUNG SUKET
NING GUNANE AKEH BANGET
YAIKU JENENGE NGELMU PRING
DADIA KAYA PRING
PRASAJA ORA DUWE APA2
NING MARGA ORA DUWE OPO2
BAKAL BISA DADI OPO2
KAYA PRING
Sebuah tulisan yang saya temukan di salah satu halaman sebuah skripsi yang tergeletak di kamar kos temen saya. Sebuah tulisan yang sarat akan pesan arif nan bijaksana dari seorang wartawan sekaligus Romo, SINDUNATA. Bagi yang gak mudeng bahasa jawa, kira2 inti dari tulisan tersebut adalah sebuah pesan agar kita menyerap falsafah bambu(pring). Bambu itu hanyalah sebangsa rumput, yang bukan apa-apa. Tapi dari rumput yang bukan apa-apa tadi bisa dihasilkan bermacam-macam hal yang berguna bagi kehidupan. Kita sebagai manusia hendaknya juga seperti itu, jangan cuma jadi rumput biasa yang nggak berguna, tapi jadilah sebuah bambu yang "migunani" bagi orang banyak.
08 June 2007 12 comments

Antara Bokep Barat, Sepatu dan Peradaban


Saya sangat yakin kalau mas-mas, mungkin juga mbak-mbak, yang buka blog saya dan baca tulisan ini pasti pernah nonton bokep, boki, BF, Film porno atau apalah sampeyan menyebutnya. Dalam bokep barat(istilah saya dan teman2 saya untuk bokep yang diproduksi di Amerika, eropa atau manapun pokoknya bukan dari Asia), seringkali kita temui mbak-mbak bintang filmnya itu masih pake highheels, Boot, atau juga sneakers saat melakukan adegan-adegan bobok tumpuk, iya kan?
Menurut salah satu teman saya, konon hal tersebut gak lepas dari arogansi kaum-kaum barat tersebut sebagai ras yang paling tinggi peradabannya di dunia.

Lha terus apa hubungannya?

Jadi begini, berhubung mereka mengaku sebagai ras paling sempurna dan paling tinggi peradabannya, maka meskipun mereka sedang melakukan perbuatan yang tidak beradab(bobok tumpuk di tonton banyak orang seperti saya, kamu, anda, sampeyan...) mereka tetep memakai sepatu untuk menunjukkan bahwa mereka masih beradab. Jadi sepatu disini memiliki fungsi untuk mempertahankan status keberadaban mereka.
Agak sedikit gila teori tersebut, dan saya berani taruhan bahwa teori tersebut belum teruji kebenarannya sama sekali. Dan saya belum pernah dan males banget untuk nyoba tidur ditempat tidur pake sepatu. Kalo sampeyan?
05 June 2007 1 comments

Gak Kapok Juga...

Busyet..belom sempat ada comment masuk di posting saya yang tentang ke blo'onan aparat, eh udah ada kasus lagi. Sekarang giliran TNI AL yang maen dar der dor buangin peluru dari moncong senapannya di Desa Alastlogo, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Pada kurang kerjaan ato gimana sih? Udah gitu pake ngeles bilangnya pada mati karena peluru pantulan lagi...dasar bangsat bertopeng pelindung rakyat!!!!!
Saya bisa paham kalo lama megang senjata dan gak pernah kepake tu gatel rasanya, tapi mbok ya otak yang sampeyan-sampeyan para tentara miliki itu dipake, atau gak punya?
Kalo emang udah gatel pengen nembakin senjata, kan bisa ikut PERBAKIN, atau maen air soft gun aja?jangan terus nembakin orang2 yang gak berdosa sama sampeyan gitu dong...terang aja mereka pada koit, lha wong gak imbang gitu, M16 lawan sabit...oalah dasar guoblok!!!!
Dengan adanya kasus itu, saya pribadi makin gak respek sama para aparat, biar aja om-ku ada yang anggota polisi atau TNI, yang jelas saya makin ngerasa gak aman hidup di Indonesia ini. Lha lembaga yang ditugasi menjaga rakyat Indonesia ternyata pada gak punya otak gitu, bukannya bikin aman malah bikin resah.
Sudah saatnya ada reformasi besar-besaran dalam tubuh TNI, dan POLRI juga, jangan sampe para pelayan dan pelindung masyarakat itu jadi pembantai dan pembunuh masyarakat.
Bersama dengan dipublish-nya posting ini saya ingin menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas insiden di Pasuruan, semoga tidak akan terulang kejadian-kejadian yang sama dikemudian hari.
Maafkan kalo bahasa dalam posting ini agak kasar, tapi ya biarin wong blog-blog saya sendiri kok...
30 May 2007 7 comments

Mengais Tradisi dan Budaya Jogja


Selalu ada sensasi tersendiri setiap memasuki wilayah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pemandangan para abdi dalem dengan beskap maupun kebaya, suasana yang tenang, keramahan yang orisinil, dan alunan indah bahasa kromo inggil yang muncul dari mulut para abdi dalem tersebut setiap diajak berbicara. Sebuah keadaan yang akan semakin sulit ditemukan diluar wilayah Keraton.

Yogyakarta telah lama dikenal sebagai kota budaya. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memegang peranan penting sebagai pusat dan sumber kebudayaan yang dimiliki oleh kota Yogyakarta. Namun predikat sebagai kota budaya bukan tidak mungkin sebentar lagi akan dicopot dari Yogyakarta. Kebudayaan yang diagung-agungkan dan menjadi trade mark Yogyakarta ternyata lambat laun mulai tergeser akibat arus globalisasi yang semakin kencang berhembus. Dalam peta Pariwisata Indonesia, Yogyakarta termasuk salah satu favorit tujuan para wisatawan (baik Mancanegara maupun domestik). Setiap musim liburan tiba, kita dapati jalan-jalan di kota kita ini terasa semakin sesak dengan wisatawan yang berkunjung. Salah satu yang diunggulkan Yogyakarta sebagai ujung tombak pariwisata adalah wisata budaya. Menurut E.B Taylor (1982), kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang terkandung didalamnya pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat manusia sebagai anggota suatu masyarakat.

Generasi muda memegang peranan kunci demi kelestarian sebuah kebudayaan. Namun kecenderungan yang terjadi di Yogyakarta dewasa ini adalah; semakin menipisnya perhatian atau minat generasi muda dalam hal pelestarian kebudayaan. Hal ini dapat dilihat dari pola dan gaya hidup generasi muda Yogyakarta yang sudah semakin jauh meninggalkan identitas ke”Jogjaan”nya. Memang tidak dapat disalahkan apabila para generasi muda, khususnya remaja, di kota Jogjakarta lebih mengakrabi budaya pop ketimbang budaya warisan leluhur yang bersahaja. Peran media sangat besar dalam memperngaruhi orientasi budaya kalangan muda ini. Muncul istilah generasi MTV yang mengacu pada budaya dan gaya hidup yang penuh dengan hura-hura, glamour dan kekayaan yang tidak masuk akal. Remaja dengan tingkat emosi dan pemahaman yang masih labil secara mentah-mentah menduplikasi apa-apa yang mereka lihat melalui televisi pada kehidupan sehari-hari mereka, baik dalam budayanya dan terlebih dalam dandanannya. Hal ini sangat mengkhawatirkan. Lambat laun tradisi dan budaya asli Yogyakarta yang anggun dan bersahaja itu bakal tergusur dan akan benar-benar lenyap dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jogja sendiri.
Contoh sederhana adalah penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar sehari-hari mulai tergusur dengan bahasa Indonesia, yang sebenarnya juga bukan murni bahasa Indonesia, karena banyak mengandung sisipan dan istilah-istilah yang populer dengan bahasa gaul. Tak pelak lagi bahasa jawa yang memiliki tingkatan-tingkatan seperti kromo inggil, kromo alus, sampai ngoko mulai jarang bisa kita dengarkan dari mulut seorang remaja yang berbicara kepada orang tuanya, atau seorang adik kepada kakaknya.

Dari segi tradisi, telah lama kita tahu bahwa THR Yogyakarta telah menjadi Purawisata yang mengandalkan musik dangdut sebagai acara pokoknya, yang mana dangdut jelas-jelas bukan merupakan budaya asli dari Yogyakarta. Kadang muncul keinginan untuk dapat menyaksikan pertunjukan kethoprak atau wayang orang seperti yang secara rutin masih dipentaskan di taman Sriwedari Solo. Bisa dipastikan dengan keadaan seperti ini semakin banyak generasi muda asli Yogyakarta yang buta akan kesenian wayang kulit, kethoprak, wayang orang, dan tari-tarian asli peninggalan kebudayaan Yogyakarta, dikarenakan tidak ada lagi tempat yang secara kontinyu menyajikan kesenian-kesenian tradisional tersebut.
Tradisi Sekaten yang merupakan tradisi peninggalan leluhur juga menuai kontroversi setiap perayaannya. Sekaten dituding sudah bukan lagi milik rakyat, karena kental dengan aroma komersialisme yang mengalahkan nuansa tradisinya itu sendiri. Sungguh kasihan generasi penerus di Jogjakarta. Suatu saat mungkin mereka hanya bisa mendapatkan informasi tentang sejarah tradisi dan kebudayaan kota mereka sendiri melalui buku pelajaran.

Pemerintah Propinsi DIY seharusnya sadar betapa pentingnya melestarikan tradisi dan kebudayaan asli daerah. Pelestarian budaya dan tradisi Jogja bukanlah semata-mata tanggung jawab Keraton, namun juga tanggung jawab kita semua sebagai warga Jogja yang harus didukung sepenuhnya oleh Pemprop DIY. Pelestarian sebuah kebudayaan adalah sebuah tindakan yang harus dilakukan secara terus menerus, bukannya terputus. Mungkin ada baiknya apabila pemerintah membangun semacam pusat kebudayaan, yang secara rutin menampilkan budaya-budaya asli Yogyakarta, seperti tarian, kethoprak, wayang orang dan wayang kulit. Tidak hanya cukup mendata grup-grup kesenian tradisional saja, tetapi juga memberi pembinaan yang serius terhadap kebudayaan-kebudayaan Yogyakarta yang sudah diambang kepunahan, seperti nggamel dan macapatan. Semoga Yogyakarta tetap diingat sebagai kota yang berbudaya.
 
;