Suatu malam saya nyetel sebuah tayangan di tipi lokal Jogja yang menyiarkan pengajian Padhang mBulan Cak Nun dan Kyai kanjeng-nya. Ada sebuah selingan yang membahas lagu Gundhul-Gundhul Pacul itu secara maknanya. Entah darimana pemahaman beliau berkaitan dengan lagu dolanan bocah itu, tapi saya kok bisa dibilang setuju sekali dengan pemahaman itu. Dan kalopun sampeyan punya atau tahu makna yang lain yang tersirat dari lagu yang sama tersebut biarlah guneman kali ini menjadi pelengkap pengetahuan saja, tidak usah diperdebatkan..sepakat? *salaman
Dari sekian panjang lebar pembahasan makna lagu itu kurang lebih yang saya tangkap adalah seperti ini; lagu tersebut lebih untuk pepeling(pengingat) bagi yang berkuasa entah itu Presiden, Gubernur, Walikota, bupati, sampai Lurah bahwa mereka itu sudah tidak gundul(bukan anak-anak lagi), dan sedang nyunggi wakul ( membawa bakul diatas kepala), wakul/bakul adalah tempat nasi yang mana nasi itu melambangkan kesejahteraan. Kalau yang didaulat nyunggi wakul oleh rakyat itu gembelengan(bertindak urakan/tidak benar/semaunya sendiri) maka Wakul itu akan nggelimpang/jatuh sehingga isinya yang berupa nasi akan tumpah dan tidak bisa digunakan untuk mensejahterakan rakyat.
Betapa arifnya orang jaman dahulu yang sudah mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana mereka harus bersikap saat mereka sudah besar nanti dan menjadi seorang pemimpin, meski hanya dalam lingkup rumahtangga.
Lagu yang saya sendiri juga tidak tahu kapan diciptakan itu, tapi saya yakin sudah cukup lama, ternyata masih sangat relevan dengan kehidupan jaman sekarang. Banyak pemimpin yang mengemban amanat rakyat, yang bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyat yang dipimpinnya, tapi nyatanya bersikap semaunya sendiri. Alhasil ya seperti yang sampeyan semua lihat di media tiap hari itu, tidak usahlah disebutkan disini.
* Kalo ada yang nanya, "lha terus makna Pacul apa dong?" , menurut saya kata Pacul sendiri digunakan karena pacul/cangkul sendiri identik dengan petani yang lagi2 identik dengan rakyat kecil, mungkin juga agar lagu tersebut memiliki rima yang pas..Gundhul dengan Pacul..sama2 "ul" kan? atau ada yang tau maknanya? monggo dibagi.. :)
Dalam budaya Jawa acapkali disebut istilah unggah-ungguh yang kalo diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti tata krama/ sopan santun. Budaya Jawa memang kental dengan nuansa sopan santunnya. Istilah-istilah yang menjunjung tinggi rasa sopan santun dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, terutama di pedesaan. Bahkan dalam tata bahasa jawa sendiri ada tingkatan-tingkatan yang menunjukkan tingkat kesopanan, ada kromo inggil, kromo alus, dan ngoko. Masing-masing penerapannya berbeda-beda, sesuai dengan lawan bicara kita.Unggah-Ungguh ini seringkali membuat gemas orang yang berasal dari luar budaya jawa. Karena dengan menerapkan unggah-ungguh ini kesannya orang Jawa itu kalo ngomong jadi berbelit-belit dan panjang. Tapi itulah seninya orang Jawa. Bahkan dalam tingkat emosi tertinggi pun, orang jawa masih akan memakai unggah-ungguh.
Saya punya contoh nyata dan sederhana. Suatu ketika tetangga kos lama saya tiba-tiba berkunjung ke kos. Setelah ngobrol ngalor ngidul, akhirnya beliau mengungkapkan maksud kedatangannya. Rupanya beliau sekeluarga merasa terganggu dengan polah anak-anak kos yang sering tereak-tereak tengah malem pas maen PS, parkir motor seenaknya dan menggeber mesin motor gila-gilaan tiap pagi. Bahkan ketika merasa haknya untuk memiliki lingkungan yang tenang terganggu seperti itupun beliau masih sempat memakai kata-kata “nyuwun sewu” dan “maturnuwun”. Saya yang sebagai wong jowo asli, dan kebetulan menjadi yang dituakan di kos seperti tertusuk belati tajam. Saya lebih “kena” apabila ada orang yang seperti itu. Dan dengan hati yang tulus serta rasa gak enak yang teramat sangat, saya meminta maaf kepada beliau, tak lupa disertai dengan kata’kata “nyuwun agenging pangapunten” dan “maturnuwun”.
Satu lagi mengenai kearifan orang jawa yang saya temui. Ketika sedang janjian ketemu dengan orang tua ini di suatu warnet di Solo, saya numpang ke kamar mandi. Ada tempelan menarik di tembok kamar mandi tersebut, yang pada intinya adalah perintah untuk menyiram apapun yang kita tinggalkan setelah beraktifitas di kamar mandi tersebut. Menariknya, pada awal kalimat perintah tetep aja di imbuhi kata “Maaf”. Coba sampeyan semua bayangkan, bahkan untuk memberitahu tentang kewajiban kita harus ditambahi kata “maaf”. Untuk itulah saya kok merasa bangga menjadi “wong jowo”, yang seringkali dalam sinetron atau film dikonotasikan dengan hal-hal culun, lugu, goblok, dan tentusaja dicitrakan dengan bahasa Indonesia yang medhok.
Nyuwun sewu sak derengipun mugi seratan puniko saget dipun tampi dening panjenengan sedanten.
Solo sebagai kota budaya semua sudah mengamininya, pun dengan sebutan kota Solo sebagai pusat batik. Mungkin selama ini yang dikenal wisatawan sebagai sentra batik di Solo adalah Kauman. Boleh saja Kauman lebih moncer namanya dikalangan wisatawan sebagai kampung batik, namun apakah sampeyan semua tidak ingin mengetahui asal muasal batik yang ada di solo ini?
Apabila ditilik dari sejarahnya, batik yang berkembang di kota Solo ternyata berasal dari kampung Laweyan, kampung yang terletak disalah satu sudut kota Solo. Apabila sampeyan semua menyempatkan diri untuk menyusuri gang-gang sempit di seputar kampung Laweyan, maka akan tampak jelas peninggalan kejayaan juragan-juragan batik jaman dahulu. Rumah-rumah yang dikelilingi dengan tembok tebal tinggi, pintu-pintu gerbang yang eksotis, serta workshop-workshop batik yang sekarang semakin marak, menjadi sajian menarik bagi wisatawan. Kejayaan para juragan batik Laweyan tempo dulu juga terlihat dari begitu luasnya pekarangan yang dimiliki, konon ceritanya setiap rumah juragan batik Laweyan pasti memiliki istal/kandang kuda didalam pekarangan rumahnya. Hal ini menjelaskan juga kenapa rata-rata bangunan asli rumah juragan batik di Laweyan memiliki dua pintu, satu berupa gerbang yang cukup besar dan satu lagi pintu biasa. Gerbang ini hanya dibuka ketika sang juragan akan bepergian menggunakan kereta kudanya.
searah jarum jam :
Pak Widhiarso, Pak Gunawan, Seorang turis asal Zimbabwe, hahaha...
Temulawak, ditambah es coca cola lewat deh..
Keramahan salah satu pelestari batik di Laweyan siang itu diwakili oleh Bapak Gunawan, owner/pemilik toko dan workshop batik Putra Laweyan. Beliau ditemani oleh Pak Widhi menjelaskan secara runtut dan detail mengenai sejarah Batik yang berkembang di kota Solo. Baru terkuak disiang itu pada pemahaman saya bahwa ternyata kota Laweyan telah jauh ada sebelum kota Solo itu sendiri muncul, dan memang ada semacam “pemberontakan” kecil antara para juragan batik waktu itu dengan pihak keraton. Para juragan batik di Laweyan menempatkan diri sebagi oposan pemerintah (keraton) pada waktu itu. Itulah salah satu alasan kenapa dalam setiap rumah gedong para juragan batik di Laweyan pasti terdapat jalan rahasia yang menghubungkan dengan rumah juragan batik yang lain di kampung yang sama, semata-mata hal tersebut sebagai jalan untuk bertemu secara diam-diam dan merembugkan segala sesuatu yang berkaitan dengan keadaan sosial politik.
Sudah barang tentu pemerintah tidak asal memberi penghargaan Upakarti kepada Kampung Laweyan ini beberapa waktu yang lalu tanpa ada alasan yang jelas. Dari hanya belasan keluarga yang masih melestarikan usaha batik di kampung ini beberapa tahun yang lalu, kini menjadi sekitar 60-an keluarga yang turut menghidupkan kembali kejayaan kampung Laweyan sebagai kampung batik. Hal inilah yang menjadi perhatian pemerintah pusat, dan sebagai penghargaan atas usaha tersebut maka Upakarti pada 2008 kemaren dalam kategori pelopor menjadi sebuah tambahan motivasi yang pantas. Diharapkan dengan adanya penghargaan itu akan menjadi penyemangat bagi warga Laweyan untuk kembali menghidupkan kejayaan batik dimasa lampau.
Pelestarian sebuah budaya yang adiluhung bukan sebuah perkara yang mudah, kesulitan pasti tetap ada menyertai perjalanan itu. Salah satu yang dirasakan para pejuang batik Laweyan itu adalah minimnya perhatian dari pemerintah kota Solo. Transfer informasi yang dirasa lambat membuat para Pejuang Batik Laweyan ini merasa sedikit kesulitan untuk berkembang. Namun yang sedikit membesarkan hati komunitas Batik Laweyan ini adalah rencana dari walikota Solo Jokowi untuk merelokasi pasar yang berada didekat Kampung Laweyan untuk diubah menjadi tempat parkir bus wisata. Semoga saja rencana itu segera terwujud dan akan memberi dampak yang signifikan bagi perkembangan batik Solo di kampung asalnya.
Berikut sedikit oleh2 poto dari ruang workshop batik Putra Laweyan.
suasana workshop batik Putra Laweyan
canthing dan malam(lilin) yang dipanasi, senjata utama mbatik
mbatik
batik cap
tungku untuk merendam kain batik menghilangkan malam
idem, tungku juga, tapi tampak atas
silahkan diborong
(sebenarnya saya naksir salah satu baju, tapi apa daya dompet gak berkompromi, hahaha)
Bangun tidur tadi pagi, ketika nyawa belom ngumpul sepenuhnya, tidak sengaja tangan nyenggol remote TV, ya udah saya nyalakan aja dan kebetulan lagi acara berita pagi. Bukan beritanya yang menarik perhatian saya, tapi running text yang menyertai acara tersebut yang menggugah kesadaran saya sepenuhnya. Di tulisan berjalan yang cuma beberapa detik lewat itu tertulis “ 168 bahasa daerah di Indonesia terancam punah”, persis seperti itu tulisannya. Jreeng...seketika saya inget pernah bikin guneman tentang budaya yang hampir punah juga, monggo dicek lagi kalo sampeyan ndak percaya saya pernah posting itu, hehehehe....Dan itu juga jadi penjelasan kenapa judul guneman kali ini pake nomer 2 segala.Kembali ke pokok permasalahan, bahasa daerah yang hampir punah. Saya maklum banget kalo pasangan-pasangan muda sekarang lebih suka mengajarkan anak mereka bahasa indonesia untuk bahasa sehari-hari, meski mereka tinggalnya di wates misalnya. Wates adalah daerah asal saya, yang merupakan salah satu kota kecil di propinsi DIY. Bahasa daerah dianggap mewakili hal-hal yang kuno, udik, kampungan dll. Sementara bahasa Indonesia(apalagi yang pake gue,elu) dianggap mewakili modernitas, metropolis, keren, dll.
Ini juga salah satu pengalaman pribadi saya, beberapa malam yang lalu saya ketemu calon klien motret saya, pas ngobrol saya pake bahasa jawa halus, tiba-tiba dia bilang mbok pake bahasa Indonesia aja, karena dia nggak gitu mudeng katanya. Akhirnya saya pake bahasa Indonesia juga selama perbincangan itu. Badalah...saya agak-agak terkejut juga pas saya tanya dia aslinya mana kok ternyata dia asli wong Solo, woalahhh gembuss tenan..
Indonesia sudah dikenal dunia dengan segala keunikannya yang memiliki beragam budaya. Tapi rupanya masyarakat Indonesia sendiri tidak peduli dan tidak bangga dengan keunikan yang membuat bangsa mereka itu terkenal seantero jagat. Lha terus piye ya kalo begini terus...Apa kita tidak eman-eman kalo bahasa-bahasa daerah yang menambah keeksotisan Indonesia itu punah tergerus perkembangan jaman? Mari kita lihat Jepang, yang notabene sudah dikenal dunia sebagai negara yang maju. Meski sebagai negara yang maju, tapi mereka tidak kemaki dan melupakan begitu saja budaya asli negaranya itu.
Sementara ini yang bisa dilakukan pemerintah hanyalah menyisipkan pelajaran bahasa daerah di kurikulum pendidikan nasional, itupun hanya 2 jam perminggu. Apa yang bisa didapat dari dua jam pelajaran di kelas itu sodara-sodara?
Nah sebagai blogger, apa yang kita bisa lakukan buat negara ini selain, tentusaja, menjadi pihak-pihak oposisi yang selalu mengkritik pemerintah,hehehehe.... Mari kita berusaha semampu kita buat turut berperan serta menjaga kebudayaan-kebudayaan lokal daerah kita. Semoga nanti tidak terpublish guneman pada blog ini yang berjudul “Akhirnya Punah Juga”.
Saya adalah wong Jogja asli. Saya cinta banget sama kota ini, bahkan saya ikhlas kalo semisal harus menghabiskan seluruh jatah hidup saya di kota ini. Kebetulan saja sekarang saya bermukim sementara di kota tetangga, Solo. Jogja dan Solo bagi saya memiliki keeksotisan sendiri. Kebudayaan kedua kota ini hampir sama, yah maklum saja karena dulunya Jogja dan Solo memang merupakan satu kerajaan yang kemudian berpisah setelah ada perjanjian Giyanti pada 1755. Berbasis keraton sebagai penyangga utama kebudayaan, Jogja dan Solo selama ini masih dikenal sebagai kota budaya.
Melihat pembangunan di kedua kota ini hati saya bagai terbelah dua (hayaahhh...). Disatu sisi saya senang melihat kedua hometown saya itu maju, yang ditandai dengan bermunculannya bangunan-bangunan pusat perbelanjaan yang mewakili kebudayaan modern disana sini. Tapi disisi lain saya merasa miris juga. Apa iya 15 atau 20 tahun yang akan datang Jogja dan Solo masih mampu mempertahankan kebudayaannya yang sangat luhur dan eksotis itu?
Foto ilustrasi pada guneman kali ini saya ambil di keraton Solo beberapa bulan yang lalu. Lihatlah betapa luhurnya kebudayaan Jawa, terwakili dengan seorang abdi dalem tua berpakaian adat (kemben) yang sedang khusyuk memanjatkan doa ditingkahi kepulan asap kemenyan. Coba sampeyan semua bayangken, di jaman internet sekarang ini masih ada juga yang bakar kemenyan...sungguh sangat eksotik bukan??
Lha kalo mbah-mbah seperti yang ada dalam foto itu sudah mati semua, sementara yang muda-muda lebih tertarik untuk nongkrong di mall, berlomba update fashion ala distro, dan mencoba berbagai variasi rasa kondom daripada ikut berpartisipasi melestarikan kebudayaannya sendiri, trus piye?
Impian saya, 15 atau 20 tahun lagi saya akan mengajak anak saya untuk hunting foto ke tempat yang sama, dan saya ingin anak saya nanti juga masih dapat menyaksikan keeksotikan kebudayaan asli Jawa itu. Tapi apakah impian saya itu terlalu mengada-ada ya? Masih mungkinkah hal itu dapat di jumpai di masa yang akan datang? Haruskah anak saya nanti mengenal kemben dari mall-mall? Kemben yang telah dipadukan dengan rok mini dan sepatu hak tinggi yang ditingkahi kepulan asap rokok dari bibir tipis nan sexy?

Saya wong Jowo ndeso asli, lahir dan besar di Yogyakarta pinggiran (Wates Kulonprogo), tapi gak ada salahnya kan saya nulis tentang kebudayaan daerah yang bukan milik daerah saya. Yah itung-itung sebagai “selemah-lemahnya usaha” turut melestarikan budaya lokal Indonesia.
Pas nengokin kawan saya yang lagi sakit, saya nemu buku bagus diantara deretan koleksi bukunya. “Robin Hood Betawi”, begitu judul yang tertera disampul buku itu. Buku karya Alwi Shahab yang saya yakin banget digunakan teman saya itu buat referensi nyusun tugas akhirnya dulu yang bertema kebudayaan Betawi. Postingan kali ini saya ambil dari salah satu bab di buku itu, yah untuk antisipasi aja kalo2 ada blogger yang pernah baca buku itu dan kebetulan baca postingan saya ini dan mencibir “halah si Tukang Nggunem itu gunemannya gak orisinil, njiplak buku..”, ya biarin wong blog-blog saya sendiri kok, huehehehehe.....
* Paragraf terakhir merupakan pemikiran yang muncul setelah melihat dikoran bule-bule pada main gamelan sementara dihalaman laen ada seorang anak remaja Indonesia yang piawai banget maenin komposisi musik klasik dengan piano
Gambar ilustrasi ngambil dari sini
Apa yang ada dibenak sodara-sodara semua saat mendengar kata “priyayi”? Kalo saya tanya hal ini pada teman saya si Ndolo, pasti dia jawabnya tempat ngopi tempat biasa kami nongkrong. Tapi bagi sampeyan semua saat mendengar kata priyayi pastilah pikiran akan digiring ke dalam kultur kerajaan pada jaman baheula. Priyayi selalu diasumsikan dengan orang terhormat dan yang berkaitan dengan kerajaan (di Jawa tentunya). Dulu banget di Surakarta ( ya sekitar tahun 1890-an lah), ketika sistem hierarki dalam masyarakat masih kental, priyayi adalah sebuah posisi yang sangat didambakan, bahkan menjadi cita-cita bagi masyarakat umum (waktu itu disebut wong cilik atau kawulo alit). Dalam masa itu Priyayi adalah pegawai pemerintah kolonial (abdining kanjeng Gubernemen) dan abdi dalem Susuhunan(baik parentah ageng maupun keraton). Apapun pekerjaannya, minumnya teh botol sosro..ehh..bukan ding..maksut saya apapun pekerjaannya, mereka yang mengabdi pada raja sudah barang tentu dia adalah priyayi. Kepriyayian pada waktu itu sangatlah dihormati tatkala pusat kekuasaan, raja, dan birokrasi kolonial memonopoli kekayaan-kekayaan simbolik maupun aktual. Ini saya cerita tentang kerajaan di Surakarta lho. Sebagaimana diketahui bahwa keraton Surakarta sangat kooperatif dan openhand terhadap pemerintah kolonial Belanda.Pengabdian priyayi pada raja adalah mutlak. Bahkan pejah wonten ing sangandaping sampeyan dalem (mati di bawah kaki raja) adalah salah satu obsesi yang diinginkan para priyayi itu. Bagi mereka, mati dibawah kaki sang raja merupakan kamulyan ingkang dipun padosi (kemuliaan yang dicari).
Kini, pada masa modern seperti sekarang ini, saat keraton sebagai simbol budaya telah dikepung dengan keberadaan mall-mall sebagai simbol kapitalisme, tidak ada lagi perbedaan antara priyayi dan kawulo alit (wong cilik). Nggak ngaruh banget gelar-gelar kerajaan macem Raden Mas, Kanjeng Raden Tumenggung, Radenroro, atau apalah...
Banyak wong cilik yang tumindake luwih mriyayeni (tindak tanduknya lebih terhormat) dari pada priyayi beneran, banyak pula priyayi yang tindak tanduknya tidak lebih baik dari seorang bajingan kelas terminal.
* Jangan percaya jika suatu saat ketemu oknum yang ada pada foto diatas dan mengaku dirinya sebagai priyayi. Harap segera lapor ketua RT setempat.

Yogyakarta telah lama dikenal sebagai kota budaya. Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memegang peranan penting sebagai pusat dan sumber kebudayaan yang dimiliki oleh kota Yogyakarta. Namun predikat sebagai kota budaya bukan tidak mungkin sebentar lagi akan dicopot dari Yogyakarta. Kebudayaan yang diagung-agungkan dan menjadi trade mark Yogyakarta ternyata lambat laun mulai tergeser akibat arus globalisasi yang semakin kencang berhembus. Dalam peta Pariwisata Indonesia, Yogyakarta termasuk salah satu favorit tujuan para wisatawan (baik Mancanegara maupun domestik). Setiap musim liburan tiba, kita dapati jalan-jalan di kota kita ini terasa semakin sesak dengan wisatawan yang berkunjung. Salah satu yang diunggulkan Yogyakarta sebagai ujung tombak pariwisata adalah wisata budaya. Menurut E.B Taylor (1982), kebudayaan sebagai keseluruhan yang kompleks yang terkandung didalamnya pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat manusia sebagai anggota suatu masyarakat.
Generasi muda memegang peranan kunci demi kelestarian sebuah kebudayaan. Namun kecenderungan yang terjadi di Yogyakarta dewasa ini adalah; semakin menipisnya perhatian atau minat generasi muda dalam hal pelestarian kebudayaan. Hal ini dapat dilihat dari pola dan gaya hidup generasi muda Yogyakarta yang sudah semakin jauh meninggalkan identitas ke”Jogjaan”nya. Memang tidak dapat disalahkan apabila para generasi muda, khususnya remaja, di kota Jogjakarta lebih mengakrabi budaya pop ketimbang budaya warisan leluhur yang bersahaja. Peran media sangat besar dalam memperngaruhi orientasi budaya kalangan muda ini. Muncul istilah generasi MTV yang mengacu pada budaya dan gaya hidup yang penuh dengan hura-hura, glamour dan kekayaan yang tidak masuk akal. Remaja dengan tingkat emosi dan pemahaman yang masih labil secara mentah-mentah menduplikasi apa-apa yang mereka lihat melalui televisi pada kehidupan sehari-hari mereka, baik dalam budayanya dan terlebih dalam dandanannya. Hal ini sangat mengkhawatirkan. Lambat laun tradisi dan budaya asli Yogyakarta yang anggun dan bersahaja itu bakal tergusur dan akan benar-benar lenyap dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jogja sendiri.
Contoh sederhana adalah penggunaan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar sehari-hari mulai tergusur dengan bahasa Indonesia, yang sebenarnya juga bukan murni bahasa Indonesia, karena banyak mengandung sisipan dan istilah-istilah yang populer dengan bahasa gaul. Tak pelak lagi bahasa jawa yang memiliki tingkatan-tingkatan seperti kromo inggil, kromo alus, sampai ngoko mulai jarang bisa kita dengarkan dari mulut seorang remaja yang berbicara kepada orang tuanya, atau seorang adik kepada kakaknya.
Dari segi tradisi, telah lama kita tahu bahwa THR Yogyakarta telah menjadi Purawisata yang mengandalkan musik dangdut sebagai acara pokoknya, yang mana dangdut jelas-jelas bukan merupakan budaya asli dari Yogyakarta. Kadang muncul keinginan untuk dapat menyaksikan pertunjukan kethoprak atau wayang orang seperti yang secara rutin masih dipentaskan di taman Sriwedari Solo. Bisa dipastikan dengan keadaan seperti ini semakin banyak generasi muda asli Yogyakarta yang buta akan kesenian wayang kulit, kethoprak, wayang orang, dan tari-tarian asli peninggalan kebudayaan Yogyakarta, dikarenakan tidak ada lagi tempat yang secara kontinyu menyajikan kesenian-kesenian tradisional tersebut.
Tradisi Sekaten yang merupakan tradisi peninggalan leluhur juga menuai kontroversi setiap perayaannya. Sekaten dituding sudah bukan lagi milik rakyat, karena kental dengan aroma komersialisme yang mengalahkan nuansa tradisinya itu sendiri. Sungguh kasihan generasi penerus di Jogjakarta. Suatu saat mungkin mereka hanya bisa mendapatkan informasi tentang sejarah tradisi dan kebudayaan kota mereka sendiri melalui buku pelajaran.
Pemerintah Propinsi DIY seharusnya sadar betapa pentingnya melestarikan tradisi dan kebudayaan asli daerah. Pelestarian budaya dan tradisi Jogja bukanlah semata-mata tanggung jawab Keraton, namun juga tanggung jawab kita semua sebagai warga Jogja yang harus didukung sepenuhnya oleh Pemprop DIY. Pelestarian sebuah kebudayaan adalah sebuah tindakan yang harus dilakukan secara terus menerus, bukannya terputus. Mungkin ada baiknya apabila pemerintah membangun semacam pusat kebudayaan, yang secara rutin menampilkan budaya-budaya asli Yogyakarta, seperti tarian, kethoprak, wayang orang dan wayang kulit. Tidak hanya cukup mendata grup-grup kesenian tradisional saja, tetapi juga memberi pembinaan yang serius terhadap kebudayaan-kebudayaan Yogyakarta yang sudah diambang kepunahan, seperti nggamel dan macapatan. Semoga Yogyakarta tetap diingat sebagai kota yang berbudaya.













- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact