15 July 2010 40 comments

KLANGENAN

Klangenan dalam bahasa Jawa bisa berarti hobi ataupun kegemaran. Lelaki Jawa jaman dulu umumnya memiliki klangenan berupa ayam jago, kuda atau burung perkutut. Klangenan bisa dijadikan simbol status sosial seseorang. Orang yang memiliki klangenan biasanya rela melakukan apapun atau menghabiskan uang berapapun untuk klangenannya itu, misalnya orang yang memiliki klangenan seorang penyanyi campursari yang semok, maka dia akan rela menghabiskan duit berapapun demi ngopeni sang penyanyi semok, atau lihat saja orang yang memiliki klangenan berupa motor gede yang harga per unitnya bisa buat beli rumah itu.

Memiliki klangenan memang menyenangkan, tidak peduli orang tua atau muda semua bisa memiliki klangenan sendiri-sendiri. Coba saja tengok Pak Marsudi dengan klangenannya ini.

Dulu saya pernah punya Tri Wahyu Lesmono(Mono), seekor kucing yang beberapa tahun kemudian mati, lalu saya juga pernah punya Joni de Franco, seekor hamster yang kini sudah pindah tangan ke sepupu saya. Saya juga pernah memberdayakan kolam kecil di kos-an saya dengan puluhan ikan lele (yang gak mungkin kan kalo dikasih nama satu-satu), yang kemudian saya sendiri gak tega untuk ikut menikmatinya pada saat dipanen bareng anak-anak kos lainnya.

Belum lama ini saya membelikan istri sepasang kelinci hias di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY). Hal ini saya lakukan karena berulangkali Istri bilang kangen sama kucingnya di rumah, sementara saya sendiri kalo deket-deket sama kucing bisa langsung bersin-bersin, jadi saya ambil jalan tengah yaitu memberinya sepasang kelinci. Kata penjualnya sih ini jenis kelinci persia, tapi saya gak gitu peduli ini jenis kelinci apa yang penting bulunya halus dan gak bikin bersin, selain itu jinak banget dan lucu. Dan begitulah, sejak saat itu saya memiliki resmi memiliki klangenan sepasang kelinci. Oleh istri saya sepasang kelinci itu dikasih nama Upin dan Ipin(gak kreatif banget memang, hahaha).

Berkat si Upin dan Ipin, studio saya akhir-akhir ini semakin rame saja, bukan rame dengan orang yang mau foto, tapi rame dengan anak-anak kecil tetangga yang pada suka dengan kelinci saya itu, hehehe..
08 July 2010 21 comments

Dunia Pagi, Pagi Dunia..!!

Selama beberapa tahun terakhir, saya praktis jarang atau hampir tidak pernah menyapa udara dan sinar mentari pagi yang, kata orang, segar dan menyehatkan itu. Sebagai mahasiswa yang harus nge-kos, pola hidup yang tidak sadar terbentuk adalah begadang kalo malam, dan bangun setelah hawa panas memenuhi kamar kos yang membuat keringat bercucuran dan membuat tidur tidak nyaman lagi, bisa dipastikan saat itu terjadi jarum jam sudah menunjuk angka 10 atau bahkan lebih. Bangun pagi sudah mirip sebuah aib yang akan sangat menyesal sekali apabila terpaksa melakukannya.

Setelah lepas dari kehidupan kos2an, kebiasaan itu masih terbawa sampai ke rumah. Bahkan setelah memiliki tempat usaha sendiri pun bangun pagi masih terasa berat bagi saya. Ketika orang lain berlomba-lomba untuk membuka tempat usahanya sepagi mungkin, saya masih meringkuk di tempat tidur dan membetulkan selimut. Saya mulai membuka pintu tempat usaha saya kira-kira jam 11-an. Tentu saja dilandasi dengan keyakinan bahwa setiap orang punya rejekinya masing-masing asalkan ada usaha untuk meraihnya, jadi sesiang apapun saya membuka tempat usaha saya, pasti ada rejeki untuk saya, dan alhamdulillah-nya, hal itu ternyata benar terbukti.

Semenjak memiliki pendamping hidup beberapa waktu yang lalu, pola hidup saya berubah total. Bukan soal guling tidur yang sekarang bisa nabok, tapi soal jam tidur dan jam bangun saya yang berubah total karena harus menyesuaikan dengan istri. Berhubung istri adalah pekerja kantoran, maka bangun pagi adalah sebuah keharusan. Awal-awal memang terasa berat, namun lambat laun mulai terpola juga jam biologis saya untuk tidur sebelum jam 11 malam dan bangun jam 5-an pagi. Dan memang benar kata orang bahwa udara pagi itu segar, atau dingin lebih tepatnya. Setelah istri berangkat ke kantor, kegiatan saya selanjutnya adalah menunggu mas loper koran datang membawa koran langganan dengan mencicil membaca-baca berita dari portal berita online dan blog.

Dari tempat saya ngetik postingan ini, saya disuguhi pemandangan pagi sawah di depan rumah saya dengan gerombolan burung kecil dan ayam-ayam yang mencari makan, dan di jalan kecil yang membatasi rumah saya dengan sawah tersebut, sering ada orangtua (tetangga) yang menyuapi anak bayinya sambil jalan-jalan, juga berseliweran orang tua yang berangkat ke kantor sambil memboncengkan anaknya untuk diantar ke sekolah masing-masing.

Sungguh dunia pagi memang menakjubkan, ketika kita menemui wajah-wajah orang yang masih segar dan siap menghabiskan energinya yang masih full setelah dichas semalaman untuk menghadapi hari selanjutnya, ketika kita menjumpai wajah polos anak-anak yang akan berangkat ke sekolah untuk bertemu dan bermain dengan teman-temannya, dan seekor anjing putih yang entah sudah berapa kali mondar-mandir berlari-lari melewati depan rumah saya entah untuk apa.

Jadi saya ucapkan selamat pagi kawan, selamat pagi dunia, selamat menjalani hari ini, semoga hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan buat sampeyan semua.
16 February 2010 49 comments

FYI, Tuhan Tidak Main Facebook..

Entah pesugihan apa yang dipake oleh Mark Zuckerberg sampai mainan bernama facebook bikinannya digilai berjuta insan manusia di dunia ini. Hampir semua orang yang bisa mengakses internet mempunyai account di facebook. Mulai dari yang berprofesi sebagai dosen sampai dengan pekerja seks komersial semua memiliki facebook. Masing-masing berlomba untuk mengupdate status di facebooknya, sekedar memberi tahu dunia tentang apa yang sedang dirasakan atau aktifitas yang sedang dilakukan. Urgensinya bagi orang yang membaca apa coba? Gak ada babar blas… ketika banyak komen yang masuk memang akan muncul semacam sensasi yang menyenangkan, merasa eksis dan diperhatikan banyak orang. Jadi kesimpulan awal yang bisa diambil adalah para pecandu facebook itu kaum yang NARSIS.

Sekian lama saya masuk dalam rombongan orang-orang narsis itu dengan berasyik masuk di facebook, semakin hari ternyata semakin membuat tidak nyaman. Ada semacam dorongan untuk selalu membuka account facebook kita setiap hari dan otomatis kita akan dipaksa melihat update status yang dilakukan oleh teman-teman kita, bohong besar kalo kita bisa melewatkan halaman dimana status teman-teman kita itu terpampang tanpa membacanya sedikitpun. Ada berita bahagia, ada kisah sedih, dan banyak kabar gak penting yang berseliweran, pada awalnya menarik tapi lama-lama kok malah jadi mengusik. Kalo sampeyan pernah nonton film Bruce Almighty saat diceritakan si Bruce bisa mendengar kata hati dan doa semua orang, semua berseliweran di dalam kepalanya, kira-kira gambarannya seperti itu lah bagi saya.

Ketika semua orang ikhlas untuk “membuka” kehidupannya kepada dunia, ruang privat tidak dibutuhkan lagi. Semakin banyak orang yang akan bisa mengetahui makanan kesukaan orang lain, merk hape terbaru yang dimiliki orang lain, ukuran sepatu, celana, kutang dan cawat orang lain, bahkan mungkin tahi lalat dibokong orang lain pun akan bisa diketahui. Menurut sampeyan itu menyenangkan?

Banyak saya jumpai orang-orang berkeluh kesah, komplain, atau berdoa kepada Tuhan (komplit dengan membawa-bawa nama Tuhan segala) melalui update statusnya di facebook. Bagi saya, berdoa itu adalah saat-saat paling intim antara saya dengan Tuhan saya. Saya butuh waktu dan tempat yang khusus untuk melakukan aktifitas berdoa itu, sama sekali bukan hal untuk dipamerkan dan benar-benar hanya antara saya dan Tuhan saja yang tahu. Apakah karena teman di facebook ribuan lalu ketika berdoa lewat facebook dan banyak yang membaca sekaligus mengkomen maka akan lebih besar kemungkinannya untuk didengar oleh Tuhan?? Atau tujuan menuliskan status berwujud doa itu hanya agar kelihatan relijius?? Atau jangan-jangan mereka pikir Tuhan itu main facebook juga?? Kalo iya, maka selamat..selain jadi orang narsis ternyata sekaligus juga orang pekok.

Jadi, berhentilah berkeluh kesah di facebook..!!!

(Ps : Saya sudah menghapus account saya di facebook, dan ternyata rasanya menyenangkan..)

09 December 2009 31 comments

Rejeki

“Habis mas..”, begitu ucap perempuan paruh baya tersebut ketika ada dua pemuda berboncengan motor yang berhenti di depan warung tendanya. Hmm..berarti dada dan kepala ayam yang sedang saya tunggu untuk digoreng itu adalah dagangan terakhirnya. Entah kenapa saya senang mengetahui dagangan perempuan ini habis, bukan..bukan karena dia ada hubungan darah dengan saya, apalagi karena saya ada main dengan perempuan penjual ayam goreng/bakar itu, rasa senang itu semacam empati yang datang secara tiba-tiba dalam diri saya. Berarti jerih payahnya mempersiapkan dagangan sejak pagi(mungkin) terbayar lunas, berarti pula dia berhasil membawa pulang sejumlah uang untuk menambah pendapatan keluarganya.

Tiba-tiba suara gamelan jawa yang rancak menyeruak di sela-sela suara deru kendaraan bermotor. Dua orang pengamen dengan kostum penari kuda lumping beraksi di warung tenda itu. Satu orang membawa semacam tape komplit dengan speaker besar yang tidak memberi kesempatan suara bass dalam output suaranya, sedangkan seorang lagi membawa kuda kepang dan menari alakadarnya di depan orang-orang yang sedang menikmati makanan di warung itu.

Ada sebuah benang merah yang menghubungkan antara penjual ayam tersebut dengan pengamen kuda lumping. Mereka sama-sama sedang mengumpulkan rejeki untuk hidup mereka. Rejeki memang ada dimana-mana. Rejeki ada untuk siapa saja. Tentunya dengan syarat orang tersebut mau berusaha. Bahkan orang yang menang lotre pun harus bersusah payah berangkat membeli kupon lotre dan memikirkan nomer yang akan mereka pasang. Jadi jangan harap mendapatkan banyak rejeki hanya dengan lungguh jegang, ngopi, udud, dan kukur2 dengkul tiap pagi di rumah.

Sama halnya dengan beberapa waktu yang lalu saat diadakan rekruitmen calon pegawai pemerintah. Ada yang rela menyebrang ke propinsi tetangga, bahkan menyebrang ke pulau tetangga untuk memperebutkan posisi terhormat tersebut. Semua itu demi mengejar rejeki tadi dan juga sekaligus menaikkan status sosial mereka dalam masyarakat.

Rejeki bagi saya pribadi sama halnya dengan beol dipagi hari. Kadang bisa banyak, kadang sedikit, dan kadang malah tidak beol sama sekali. Semua tergantung input pada hari sebelumnya. Kalo inputnya banyak keluarnya juga banyak, kalo inputnya sedikit ya cuma sedikit juga keluarnya. Artinya banyak sedikitnya rejeki yang saya dapat berbanding lurus dengan usaha yang saya lakukan.

Trus kalo ada yang bilang, “ Kalo saya banyak sedikit rejeki yang masuk tergantung besar kecilnya duit rakyat yang saya embat”, atau “Kalo saya sedikit banyaknya rejeki tergantung besar kecilnya kasus yang saya makelari..boleh kan mas??”, boleh-boleh saja...ya saya cuma mau mendoakan agar sampeyan gak bisa beol dengan lancar tiap pagi..hahaha...

Selamat buat sampeyan semua yang kemarin berhasil lolos dalam seleksi menjadi pegawai pemerintah, bagi yang belum lolos saya doakan lolos pada kesempatan selanjutnya. Bagi yang tidak lolos-lolos juga, ingat bahwa rejeki itu ada dimana saja.
10 November 2009 24 comments

Sang Pembisik


Saat kaki melangkah memasuki gerbong kereta Prambanan Ekspres di stasiun Wates, tengok kiri kanan masih ada beberapa bangku yang kosong, entah apa yang membawa saya duduk di samping pemuda umur belasan yang duduk dengan menaikkan kaki di bangku kereta (istilah jawanya jegang), dan arah duduknya juga searah dengan laju kereta yang otomatis membuat kakinya hampir mengenai saya. Sekilas saya tatap pemuda wagu itu, dia sedang asik melihat pemandangan di luar kereta yang sedang melaju sedang.

Suara 1 : Asu..!!! Ndeso..!! lungguh sak geleme dewe..apa gak pernah diajari tatakrama sama orangtuanya??!! Egois..ra sopan...
Suara 2 : Mungkin saja dia tipe orang yang merasa mual kalo naik kendaraan dengan duduk menyamping, jadi dia harus menyesuaikan duduknya dengan arah laju kereta

Sampai stasiun Tugu Jogja, jumlah penumpang yang turun tidak sebanding dengan yang naik. Harus sedikit menggeser posisi duduk saya untuk memberi tempat pada seorang wanita dengan kaos pink dan memakai masker untuk menutupi mulut dan hidungnya. Wanita itu membawa travelbag guede warna biru yang menambah sesak kereta, di dekat pintu malah ada om-om yang membawa TV ukuran 21 inch, jadi berasa di kereta barang ni, pikir saya.

Beberapa menit menjelang kereta akan berangkat, tiba-tiba seorang pemuda (lagi-lagi) memaksakan untuk duduk diantara saya dan wanita itu. Hmm..okelah pikir saya, namanya juga transportasi umum.

Ternyata kereta agak molor dari yang dijadwalkan, sudah 6-8 menit duduk berdesakan namun blom juga pintu ditutup tanda akan berangkat. Perhatian saya jadi tertuju pada pemuda yang ndesel-ndesel duduk diantara saya dan wanita berkaos pink itu. Dandanannya khas pemuda masa kini, potongan rambut perpaduan antara Sasuke dengan Andhika Kangen Band, celana jeans skinny, kaos distro, dan jaket distro yang waktu itu cuma ditentengnya. Saat mata tertumbuk pada alas kakinya, alamak..sandal jepit swallow biru buluk menjadi alas kaki yang gak kalah buluknya.

Suara 1 : hmm..masnya ini bener-bener korban mode, heran kok rambutnya isa dibikin kayak gitu..gek iki mambu opo ya?? wangine kok aneh ngene.. jadi penasaran minyak rambute masnya itu apa...
Suara 2 : Heh Su..!!!lha mbok biarin orang mau dandan kayak gimana..coba lihat kamu sendiri, kaos oblong, jeans dekil, sendal njagong(istilah saya untuk sandal dengan potongan resmi), potongan rambut gak trendi, minyak rambut murahan...kmu gak lebih baik dari dia!!!
Suara 1 : Setidaknya aku gak banyak tingkah, sok tengil, sok modis...
Suara 2 : Itu kan menurut kamu...!!!

Akhirnya pintu kereta menutup secara otomatis, dan dengan sedikit hentakan kereta mulai berjalan pelan tanpa mempedulikan kedua suara hati saya yang masih saja berdebat. Tidak sampai 5 menit kereta memasuki Stasiun Lempuyangan, pemuda dengan dandanan aneh itu turun...!!!!!....... yap benar, dia turun di Stasiun Lempuyangan setelah sebelumnya naik dan memaksakan duduk berdesak-desakan dari Stasiun Tugu yang memakan waktu tidak lebih dari 5 menit saja.

Suara 2 : woooggghh...!!!!!jebul nyat kampreettt cah kuwi...kalo cuma mau turun di Lempuyangan knapa gak berdiri aja??
Suara 1 : Andyani kok...


Selepas dari Stasiun Lempuyangan tempat duduk menjadi lumayan lega, namun hanya beberapa saat saja ketika wanita berbaju pink itu bilang “Sini dong..!!”. Panggilan itu ditujukan pada om-om yang membawa tv tadi. Segera om-om berkumis tipis dan berdandan perlente itu duduk disamping sang wanita berbaju pink, kereta pun melaju lagi dengan pelan.

Meski memakai masker yang menutup sebagian wajahnya, namun saya mengira kalo umur wanita itu masih muda, terlihat dari kulitnya yang masih kencang, suaranya, dan cara berdandannya juga masih seperti anak muda masa kini. Tanpa malu dan sungkan si wanita memeluk dan menggelendot manja kepada om-om itu, dengan nada bicara yang tak kalah manjanya.

Suara 1 : Tak salah lagi, perempuan ini pasti istri simpanan dari lelaki ini.
Suara 2 : Dari mana kamu tau?
Suara 1 : Hanya orang bebal saja yang tidak tahu, lihat caranya bermanja-manja, lihat barang bawaannya, travelbag besar itu isinya mungkin pakaian dan perlengkapan hidup lainnya, sedangkan tv yang dibawa om-om itu adalah juga milik perempuan ini. Kesimpulannya perempuan ini sedang pindahan, mungkin tempat tinggal yang lama sudah diendus keberadaannya oleh istri tua om ini.
Suara 2 : Bagaimana kalo ternyata ini anaknya?
Suara 1 : Anak?? Apa kamu gak bisa membedakan dari caranya bersikap dan bertutur kepada om-om itu? Sigh...kamu sungguh naif sekali..
Suara 2 : hmm..mungkin ada benarnya juga, tapi bukankah itu bukan urusanmu?? Kenapa orang selalu tampak salah dimatamu?
Suara 1 : lho inikan cuma didalam hati saja, jadi bebaslah kita mau ngomongin orang kayak apa..
Suara 2 : bener mas bro...salaman sik...btw lihat orang yang berdiri didekat pintu itu, bukankah orang itu mirip dengan Titus?
Suara 1 : Titus?? yang sering nongkrong di TBS itu?? benar juga...mau disapa ndak??
Suara 2 : Pura-pura ndak lihat aja lah, lagian belum tentu itu benar si Titus..
Suara 1 : Oke mas bro...

Tidak terasa kereta memasuki stasiun Klaten, dan pasangan kontroversial itu pun turun. Ternyata bukan hanya saya saja yang memperhatikan, tatapan aneh orang-orang mengiringi turunnya pasangan itu di Stasiun yang bercat hijau itu.
Selepas dari Klaten tidak ada hal yang menarik lagi, dan saya pun membenamkan konsentrasi saya pada tabloid bola yang tadi saya beli, lumayan bisa jadi peredam dosa daripada cuma mbatin uwong ra jelas.

*) Semua kejadian adalah benar adanya, sesuai dengan yang saya temui pada perjalanan saya menuju Solo hari Senin(09/10) kemarin. Bagi yang belum pernah naik kereta Pramex silahkan mencoba, banyak hal menarik dan unik yang bakal sampeyan temui. Salam hangat selalu.
 
;