
Sosok renta itu terbaring rapuh di sebuah ruangan bercat biru berukuran 6x4 meter. Dari urat nadi di tangan kiri terjulur selang infus yang menyalurkan tetes demi tetes cairan ke dalam tubuh tuanya. Tabung oksigen juga masih dengan setia menemaninya dalam 8 hari terakhir. Sesekali terdengar rintihan lirih keluar dari mulut tuanya. Rambut yang telah memutih seluruhnya menambah kesan tua dan rapuh dari mukanya yang semakin tirus digerogoti usia. Tidak terbayangkan kalau sosok renta itu telah berhasil menghidupi istri beserta tujuh anaknya hingga mencapai taraf kemapanan yang cukup.
Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, sampai Susilo Bambang Yudhoyono pernah menjadi presiden orang tua yang kini tergolek lemah ini. Dapat dipahami kalau guratan-guratan yang menandakan sifat keras di wajahnya masih tersisa walau ditingkahi dengan keriput tuntutan usia, berapa banyak yang telah beliau relakan, dan seberapa keras usaha yang telah beliau lakukan demi mengangkat harkat dan martabat ketujuh anaknya agar bisa merasakan kehidupan yang lebih layak darinya.
Salah satu dari ketujuh putra-putri orang tua itulah yang kemudian menghadirkan saya ke bumi ini. Ya, sosok tua yang terbaring lemah di sebuah rumahsakit itu adalah mbah kakung/kakek saya. Sudah lebih dari seminggu ini beliau harus masuk rumah sakit. Gula darahnya mencapai angka 700 dari normal 150, bahkan sempat dikabarkan kritis(setidaknya begitu pada sms dihape saya) yang membuat saya langsung pulang tanpa pikir panjang. Berhubung saya masih punya tanggung jawab di Kota lain, maka otomatis saya tidak bisa menjaganya setiap saat. Hal ini sedikit banyak mengusik pikiran. Jadi parno sendiri tiap ada sms atau panggilan tak terjawab di hape saya yang berasal dari orang rumah.Sebagai cucu laki-laki tertua, saya merasa kalo beliau ini menaruh harapan besar di pundak saya, mungkin karena dari berpuluh cucunya hanya 3 yang laki-laki termasuk saya, dan jarak umurnya cukup jauh dari saya (cucu laki-laki keduanya masih SMA dan kebetulan blogger juga). Setidaknya hal ini saya tangkap dari sekecil apapun pencapaian yang saya lakukan, beliau terlihat bangga sekali, ya tapi mungkin saya cuma ge er aja ding... Kemaren saat tubuhnya terbaring tidak berdaya dan ditengah kesadarannya yang menipis beliau berulang kali menanyakan keberadaan saya, dan inilah yang membuat saya menyeberangi satu propinsi buat menjenguknya. Setelah saya berada disampingnya, hal yang pertama keluar dari mulutnya adalah mengadukan kalau tubuhnya sakit semua kepada saya, lalu beliau minta dipijitin, weleh weleh weleh...simbahku ini jian sekti tenan, bisa membuat saya menempuh berpuluh-puluh kilo perjalanan hanya untuk minta pijit.
Kagem simbah kakung, kulo namung saget ndedonga dumateng Pangeran mugi simbah enggal kaparingan sehat saking Gusti Kang Murbeng Dumadi. Nyuwun pangapunten kulo mboten saget saben dinten ngancani lan mijeti simbah.









- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact