Ki Semar yang kondang ngaloka sebagai pengayom yang bijaksana, arif dan berbudi pekerti luhur sedang mengalami cobaan. Sebuah blunder yang dilakukannya mengakibatkan jagat pewayangan dilanda ontran-ontran hebat. Rumah Ki Semar yang sejak dulu memang sudah ramai dengan para tamu, kini semakin rame saja dikunjungi orang-orang. Dulu tamu di rumah Ki Semar hanyalah terdiri dari kolega-koleganya yang sesama tokoh kondang, orang-orang yang menghaturkan puja-puji demi mengharap cipratan kepopuleran, pun orang yang benar-benar mengagumi geguritan karya Ki Semar, namun kini tamu Ki Semar semakin beragam. Ada juga orang-orang yang dengan berani dan terang-terangan mengumpat-umpat tokoh karismatik itu di rumahnya sendiri. Walah ada apa to ini gerangan?Usut punya usut ternyata semua itu berpangkal dari sebuah surat. Sebuah surat dari salah seorang fans untuk sang idola yaitu Ki Semar. Lha gene ki cuma surat....we e e e e sabar dulu ki sanak....ternyata itu surat bukan sembarang surat. Dan yang bikin geger juga bukan karena Ki Semar menerima surat dari fansnya itu, namun karena surat itu, entah untuk tujuan apa, oleh ki Semar surat tersebut ditempel di majalah dinding yang ada di depan rumahnya. Walhasil semua orang bisa melihat, membaca, dan mentafsirkan sendiri tentang surat itu. Gawatnya lagi, di dalam surat itu tercantum dosa, berikut nama-nama beserta alamat rumah tokoh-tokoh pewayangan lain baik yang disinyalir sebagai korban maupun pelaku. Tentang seorang tokoh yang mengibuli tokoh-tokoh lain demi meraup kepeng-kepeng uang, tentang sebuah nama yang suka merayu dan meniduri wayang-wayang wedok, yang tentu saja kesemuanya hanya berupa cerita belaka, tanpa ada bukti terdokumentasikan, namanya juga cuma surat curhat. Gegerlah dunia pewayangan. Saban hari orang hilir mudik mengunjungi rumah ki Semar untuk mengetahui perkembangan kasus tersebut. Kolega-kolega ki Semar mulai dari Togog, Limbuk, Cangik, dan para pemuja setianya berlomba-lomba membuat benteng untuk melindungi tokoh pujaan mereka itu. Nama-nama yang tercantum dalam surat itu juga tak kalah heboh. Masing-masing berusaha untuk membela diri, menghindar, saling serang, bahkan berusaha menyerang balik kepada Ki Semar. Lha kok Ki Semar yang diserang balik? Lha iya, karena kalo ki Semar tidak menempelkan surat tersebut di madingnya maka tidak akan terbuka (entah kebohongan/kebenaran) kasus ini dimasyarakat jagat pewayangan. Ontran-ontran ini masih diperparah dengan cecunguk-cecunguk yang sama sekali tidak berkompeten yang urun mbacot gak penting yang malah memperkeruh suasana. Lalu bagaimana dengan Ki Semar sendiri menanggapi kasus ini? Nah ini hebatnya Ki Semar, beliau hanya muncul sekali di hadapan publik dalam kaitannya dengan kasus ini seraya berujar, “ apa yang dikatakan oleh masyarakat adalah sama dengan perkataan Gusti Kang Murbeng Dumadi”, walah beliau ini, ck ck ck....
Sementara itu si penggemar yang berkirim surat kepada Ki Semar malah jadi mencak-mencak sendiri. Kekagumannya pada ki Semar berubah menjadi kebencian yang luar biasa bak si Maia dan Ahmad Dhani. Dia tidak menyangka surat yang berisi curhatannya itu dipublikasikan, apalagi dalam surat itu tercantum dosa-dosa sejumlah orang, yang tentu saja tidak menyertakan bukti-bukti yang konkret. Di mading rumahnya, yang sempat dia bredel sendiri akibat ontran-ontran ini, dia menempelkan geguritannya sendiri menanggapi soal kasus ini. Pun dia juga meminta maaf kepada para tokoh yang sudah terlanjur dia sebutkan di surat yang di publikasikan oleh Ki Semar itu. Namun apa lacur, kepopulerannya kalah jauh dari ki Semar. Jadi mading dirumahnya ya hanya di baca oleh segelintir orang.
Tentang salah dan benar adalah sebuah hal yang sangat absurd, semua bisa berkata benar untuk diri sendiri namun juga gampang sekali berucap salah untuk orang lain. Nasi sudah menjadi bubur dan besi sudah terlanjur hancur. Waktu tidak akan mau berhenti barang sedetikpun untuk menunggu para pelaku kehidupan. Pun begitu di jagat pewayangan. Semua kehidupan kembali berjalan, ontran-ontran tinggal masa lalu. Masa lalu yang menyisakan kedengkian, prasangka, dan saling curiga. Nama baik berubah jadi buruk, nama besar jadi tercemar. Tidak ada yang diuntungkan dari sebuah ontran-ontran, semua hanya menyisakan kepiluan dan kesedihan.












- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact