04 August 2008 18 comments

ONTRAN-ONTRAN Ki SEMAR

Ki Semar yang kondang ngaloka sebagai pengayom yang bijaksana, arif dan berbudi pekerti luhur sedang mengalami cobaan. Sebuah blunder yang dilakukannya mengakibatkan jagat pewayangan dilanda ontran-ontran hebat. Rumah Ki Semar yang sejak dulu memang sudah ramai dengan para tamu, kini semakin rame saja dikunjungi orang-orang. Dulu tamu di rumah Ki Semar hanyalah terdiri dari kolega-koleganya yang sesama tokoh kondang, orang-orang yang menghaturkan puja-puji demi mengharap cipratan kepopuleran, pun orang yang benar-benar mengagumi geguritan karya Ki Semar, namun kini tamu Ki Semar semakin beragam. Ada juga orang-orang yang dengan berani dan terang-terangan mengumpat-umpat tokoh karismatik itu di rumahnya sendiri. Walah ada apa to ini gerangan?

Usut punya usut ternyata semua itu berpangkal dari sebuah surat. Sebuah surat dari salah seorang fans untuk sang idola yaitu Ki Semar. Lha gene ki cuma surat....we e e e e sabar dulu ki sanak....ternyata itu surat bukan sembarang surat. Dan yang bikin geger juga bukan karena Ki Semar menerima surat dari fansnya itu, namun karena surat itu, entah untuk tujuan apa, oleh ki Semar surat tersebut ditempel di majalah dinding yang ada di depan rumahnya. Walhasil semua orang bisa melihat, membaca, dan mentafsirkan sendiri tentang surat itu. Gawatnya lagi, di dalam surat itu tercantum dosa, berikut nama-nama beserta alamat rumah tokoh-tokoh pewayangan lain baik yang disinyalir sebagai korban maupun pelaku. Tentang seorang tokoh yang mengibuli tokoh-tokoh lain demi meraup kepeng-kepeng uang, tentang sebuah nama yang suka merayu dan meniduri wayang-wayang wedok, yang tentu saja kesemuanya hanya berupa cerita belaka, tanpa ada bukti terdokumentasikan, namanya juga cuma surat curhat. Gegerlah dunia pewayangan. Saban hari orang hilir mudik mengunjungi rumah ki Semar untuk mengetahui perkembangan kasus tersebut. Kolega-kolega ki Semar mulai dari Togog, Limbuk, Cangik, dan para pemuja setianya berlomba-lomba membuat benteng untuk melindungi tokoh pujaan mereka itu. Nama-nama yang tercantum dalam surat itu juga tak kalah heboh. Masing-masing berusaha untuk membela diri, menghindar, saling serang, bahkan berusaha menyerang balik kepada Ki Semar. Lha kok Ki Semar yang diserang balik? Lha iya, karena kalo ki Semar tidak menempelkan surat tersebut di madingnya maka tidak akan terbuka (entah kebohongan/kebenaran) kasus ini dimasyarakat jagat pewayangan. Ontran-ontran ini masih diperparah dengan cecunguk-cecunguk yang sama sekali tidak berkompeten yang urun mbacot gak penting yang malah memperkeruh suasana. Lalu bagaimana dengan Ki Semar sendiri menanggapi kasus ini? Nah ini hebatnya Ki Semar, beliau hanya muncul sekali di hadapan publik dalam kaitannya dengan kasus ini seraya berujar, “ apa yang dikatakan oleh masyarakat adalah sama dengan perkataan Gusti Kang Murbeng Dumadi”, walah beliau ini, ck ck ck....

Sementara itu si penggemar yang berkirim surat kepada Ki Semar malah jadi mencak-mencak sendiri. Kekagumannya pada ki Semar berubah menjadi kebencian yang luar biasa bak si Maia dan Ahmad Dhani. Dia tidak menyangka surat yang berisi curhatannya itu dipublikasikan, apalagi dalam surat itu tercantum dosa-dosa sejumlah orang, yang tentu saja tidak menyertakan bukti-bukti yang konkret. Di mading rumahnya, yang sempat dia bredel sendiri akibat ontran-ontran ini, dia menempelkan geguritannya sendiri menanggapi soal kasus ini. Pun dia juga meminta maaf kepada para tokoh yang sudah terlanjur dia sebutkan di surat yang di publikasikan oleh Ki Semar itu. Namun apa lacur, kepopulerannya kalah jauh dari ki Semar. Jadi mading dirumahnya ya hanya di baca oleh segelintir orang.

Tentang salah dan benar adalah sebuah hal yang sangat absurd, semua bisa berkata benar untuk diri sendiri namun juga gampang sekali berucap salah untuk orang lain. Nasi sudah menjadi bubur dan besi sudah terlanjur hancur. Waktu tidak akan mau berhenti barang sedetikpun untuk menunggu para pelaku kehidupan. Pun begitu di jagat pewayangan. Semua kehidupan kembali berjalan, ontran-ontran tinggal masa lalu. Masa lalu yang menyisakan kedengkian, prasangka, dan saling curiga. Nama baik berubah jadi buruk, nama besar jadi tercemar. Tidak ada yang diuntungkan dari sebuah ontran-ontran, semua hanya menyisakan kepiluan dan kesedihan.

27 July 2008 18 comments

Seragam Batik Bagi Pelajar Jogja

Tentang diklaimnya beberapa motif batik oleh negara tetangga membuat Indonesia seperti kebakaran jenggot. Merasa sebagai yang paling berhak untuk mengklaim bahwa batik merupakan produk lokal asli, Indonesia kemudian melakukan beberapa cara agar batik kembali membumi di Indonesia. Mulai dari presenter tipi, politikus dan pejabat negara sampai para artis, semuanya berbondong-bondong mengenakan dan berbangga diri mengenakan batik. Nah berhubung para publik figur yang sering muncul di tipi itu pada memakai batik, dan semua keliatan ayu-ayu, ganteng-ganteng, walhasil semua orang sekarang seperti dilanda demam batik. Memakai batik sudah menjadi trend fashion yang sedang digandrungi dewasa ini. Soal mempopulerkan batik ini, sebenarnya ada salah seorang kawan blogger, yang juga sekaligus kawan kuliah, yang dulu pede banget ke kampus memakai batik ditengah maraknya pakaian-pakaian produk distro. Istilahnya melawan mainstream lah. Namun apa lacur, kegantengannya gak terkatrol sedikitpun dengan pakaian batiknya, jadi ya gak ada satupun yang mengikuti jejaknya memakai batik ke kampus,hahahaha.....

Bagi sampeyan blogger semua yang berdomisili di Jogja, pasti sudah pada denger tentang Peraturan Walikota no 24 Tahun 2008 tentang pedoman peraturan dan tata tertib sekolah. Di dalam peraturan tersebut terdapat poin yang menyebutkan bahwa wajib mengenakan batik bagi seluruh pelajar pada hari Jum’at dan seragam bebas pada hari Sabtu. Sebagaimana peraturan-peraturan baru lainnya yang pasti menuai pro dan kontra, begitu juga dengan yang satu ini. Untuk yang seragam bebas sudah jelas pro dan kontranya berhubungan dengan kekhawatiran akan berpindahnya catwalk ke sekolah-sekolah, tentang bagaimana dengan anak orang yang tidak mampu akan minder karena berpakaian ala kadarnya, dan bla bla bla....gak menarik lagi buat dibahas.

Yang menarik bagi saya adalah tentang peraturan berbaju batik itu. Saya kira tujuan awalnya baik dan sudah jelas; turut berpartisipasi nguri-uri salah satu budaya bangsa yaitu batik itu sendiri. Namun implementasinya tidak akan sesimpel itu. Saya sendiri berpendapat bahwa nguri-uri atau melestarikan, apapun itu, tidak akan bisa dengan paksaan, harus tulus dari hati nurani pribadi masing-masing. Nah yang namanya peraturan kan berarti mewajibkan, mewajibkan sendiri artinya beda-beda tipis dengan memaksa, apakah dengan paksaan untuk melestarikan suatu kebudayaan itu akan bisa membuat budaya tersebut lestari? Bagaimana setelah peraturan itu tidak lagi mengikat mereka, misalnya sudah lulus sekolah, apakah masih bisa berkelanjutan hal-hal yang baik tadi? Mengingat selama ini mereka melakukan karena sebuah keterpaksaan?

Diluar perkara paksa memaksa itu sendiri ada yang lebih konkret disini. Batik yang asli budaya Indonesia adalah batik tulis, sementara harga batik tulis itu sendiri, sampeyan juga pasti paham, muahaalll... Nah kalo akhirnya pihak sekolah tunduk pada peraturan Pak Wali tadi dan mewajibkan anak-anak didiknya berseragam batik, maka saya yakin batik-batik yang akan dikenakan para siswa tadi adalah batik cap, bukan batik tulis. Nah ini juga sudah salah kaprah lagi, nanti bisa-bisa anak-anak muda yang polos tadi beranggapan bahwa batik yang selama ini di agung-agungkan sebagai budaya luhur bangsa Indonesia, adalah batik cap yang setiap hari jum’at mereka kenakan itu. Mereka akan mengenal batik tanpa tahu apa itu canting, apa itu malam, dan tanpa pernah melihat betapa eksotisnya ibu-ibu yang berulangkali meniupi cantingnya setelah dicidukkan ke wajan kecil diatas tungku,sebelum menggoreskannya pada selembar kain putih cikal batal kain batik.

Hmmm...knapa saya jadi orang yang selalu kritis pesimis kayak gini ya? Semoga kekhawatiran saya tinggal sebuah kekhawatiran tanpa alasan belaka. Semoga langkah Pak Walikota Herry itu benar-benar membantu lestarinya kebudayaan batik Indonesia.

24 July 2008 16 comments

PERNYATAAN SIKAP


Pernyataan sikap dan himbauan GUNEMANKU berkaitan dengan Hari Anak Nasional :
  1. Bahwa anak merupakan titipan dari Yang Maha kuasa, untuk itu diwajibkan bagi orang-orang yang merasa sudah dititipi agar menjaga dan memelihara titipan tersebut dengan sebaik-baiknya.
  2. Menghimbau kepada seluruh orang tua agar memberi asupan gizi, pendidikan, dan kasih sayang yang cukup kepada anak-anak mereka.
  3. Menghimbau kepada seluruh orang tua/orang dewasa untuk tidak mengeksploitasi anak-anak di bawah umur dalam bentuk apapun untuk kepentingan pribadi/organisasi.
  4. Mengutuk keras aksi-aksi demonstrasi yang melibatkan anak-anak di bawah umur dengan alasan apapun.
  5. Agar para orang tua membekali anak-anak mereka dengan keimanan yang kuat supaya terhindar dari malpraktek-malpraktek duniawi kelak ketika mereka sudah dewasa.
  6. Mengingatkan kembali bahwa anak-anak adalah penerus bangsa, mari kita persiapkan generasi penerus bangsa tersebut dengan sebaik-baiknya demi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Demikian pernyataan sikap GUNEMANKU berkaitan dengan Hari Anak Nasional yang diperingati 23 Juli 2008 lalu. Segala respon yang bertentangan dengan salah satu atau keenam butir pernyataan sikap diatas, diharapkan menyertakan alasan yang logis, konkret, jelas, dan tidak mengada-ada.

Akhirnya, bersama dengan posting ini GUNEMANKU mengucapkan selamat Hari Anak Nasional. Hidup anak-anak Indonesia!!!!!!!!!!

Surakarta, 25 Juli 2008

Direktur utama GUNEMANKU


Joell de Franco

18 comments

Quality Control

Hari Rebo(23/7) saya seperti mendapatkan kembali kata-kata yang telah saya ucapkan sebelumnya.Seorang kawan blogger yang blognya lagi mulai naik daun bilang ma saya, “kok postingmu semakin nggak bermutu…”, huasyemmmm kih....ternyata yang dia maksud gak bermutu adalah dua postingan saya yang “tips merawat kaos” sama yang “Indonesians hot mom”. Walah, pukulan telak bagi saya itu... Dia seperti mengingatkan saya untuk menjaga kualitas tulisan (padahal kapan juga sih tulisan saya pernah berkualitas,hahaha...). Malem sebelum saya menerima kritik dari kawan saya itu, saya ketemu sama bos motret saya. Pas ketemuan itu saya setengah mengkritik si bos soal menjaga kualitas juga. Dengan kerjaan yang semakin numpuk, akhir-akhir ini udah jarang sekali ada kontrol kualitas dari si bos. Asal udah gak melenceng secara teknik, ya udah. Padahal dulu bos saya itu terkenal detail sekali, saya khawatirnya lama-lama bisa kehilangan pelanggan hanya karena melupakan hal-hal yang sepele.

Kembali ke soal menjaga kualitas. Kita memang harus selalu menjaga kualitas, apapun itu, dalam diri kita. Ya syukur-syukur bisa meningkatkannya lah. Bagaimana cara menjaga kualitas diri kita? Banyak banget caranya. Kalo buat kualitas otak ya kita bisa banyak baca-baca buku, minimal koran lah, nonton tv, atau baca-baca blog juga bisa, asal blog yang berkualitas tentunya...hahahaha... Trus kalo soal kualitas fisik, tentu saja kita bisa menjaga dengan pola hidup yang sehat, yang gak perlu saya sebutkan detail di sini karena nanti bisa jadi bahan buat cewek saya nyeramahi saya, hehehe... Masih banyak lagi kualitas-kualitas yang sebaiknya kita jaga, seperti kualitas hubungan(percintaan, pertemanan), kualitas kerja, kualitas keimanan, dan lain-lain. Jikalau kita bisa menjaga semua kualitas dalam diri kita, niscaya kita akan mempunyai hidup yang sangat-sangat berkualitas. Sayangnya saya belom bisa, bagaimana dengan sodara-sodara blogger sekalian?

23 July 2008 22 comments

Indonesian’s Hot Mom

Budaya kawin, cerai, kawin lagi, cerai lagi..begitulah hal yang jamak dilakukan para selebriti tanah air. Sebuah perkawinan nampaknya bukan lagi lembaga yang harus disakralkan. Punya duit, popularitas, sekaligus tampang yang oke, membuat semua aksi kawin-cerai-kawin itu menjadi lancar-lancar aja. Berkaitan dengan fisik, banyak ibu-ibu artis itu yang masih menyimpan segudang pesona meski sudah beranak pinak.

Berdasarkan survey tidak resmi yang saya lakukan kepada teman-teman saya, akhirnya terkumpul beberapa nama dari para selebriti tanah air yang termasuk “hot Mom”. Kriterianya gampang aja, asal dia selebriti dan asal udah punya anak, tapi masih tetep bisa nyolong fokus dalam setiap penampilannya. Yang mengejutkan adalah tidak munculnya satupun nama dari keluarga Ashari, mungkin saking bosennya dengan nama-nama dari klan Ashari itu ya....

Posting ini tidak bermaksud apa-apa, pun tidak dalam rangka mengumbar napsu kelelakian saya. Hanya sekedar posting seneng-seneng buat selingan diantara postingan saya yang agak serius-serius kemaren. Dan saya yakin pasti sampeyan semua punya jagoan sendiri-sendiri dalam urusan ini, silahkan aja kalo mau nambahi,hehehe....

Mulan Jameela

TTL : Garut, Jawa Barat, 23 Agustus 1982

Status : Janda

Jumlah Anak : 2 ( 1 eks suami)










Shopia Latjuba

TTL : Berlin, Jerman, 08 Agustus 1970

Status : Menikah

Jumlah Anak : 2 (dari 2 suami)









Wulan Guritno


TTL : London, 14 April 1980

Status : Janda

Jumlah Anak : 1 (1 suami)








Maia

TTL : Surabaya, 27 Januari 1977

Status : Hampir Janda

Jumlah Anak : 3 (1 suami)









Cut Tari

TTL : Jakarta, 1 November 1977

Status : Menikah

Jumlah Anak : 1 (1 suami)









Andi Soraya

TTL : Jakarta, 18 Juni 1976.

Status : Janda

Jumlah Anak : 2 (1 kawin resmi, 1 hasil kumpul kebo)










Venna Melinda


TTL : Surabaya, Jawa Timur, 20 Juli 1972

Status : Menikah

Jumlah Anak : 2 (1 Suami)








Tamara Blezynski

TTL : Jakarta, 25 Desember 1974
Status : Janda
Jumlah Anak : 1 (1 suami)
















Regita Cahyani (Tata)

TTL : Jakarta, 02 April 1975
Status : Janda
Jumlah Anak : 2 (1 suami)















Itulah beberapa nama yang muncul dari hasil survey abal-abal saya. Foto-foto dan data personal ngambil dari koleksi di kapanlagi.com.

 
;