24.2.09

Akhirnya Launching Juga

,

Setelah tertunda-tunda beberapa waktu, akhirnya Komunitas Blogger Bengawan launching juga. Tepat pada hari Sabtu, 21 Februari 2009 bertempat di Loji Gandrung Solo, Komunitas Blogger Bengawan mengukuhkan keberadaannya di jagat Blogosphere Indonesia.

Sungguh sangat istimewa acara malam itu, beliau Walikota Solo Bapak Jokowi sendiri berkenan untuk mengawal acara dari awal hingga pungkasan. Kemeriahan acara juga ditopang oleh antusiasme saudara-saudara dari komunitas blogger dari beberapa kota yang tumplek blek di Loji Gandrung Solo, terbilang blogger Warok dari Ponorogo, TPC dari Surabaya, Cah Andong dari Jogja, Malhikdua dari Purwokerto, Loenpia dari Semarang, Nggresik dari Gresik serta perwakilan dari Blogger Malang sekaligus blogger Mojokerto (MQ Hidayat).

Tidak ketinggalan juga Bapak Blogger Indonesia Enda Nasution serta blogger-blogger indipenden seperti Pakdhe Wicak “ndoro Kakung”, Pakdhe Antyo Rentjoko “Paman Tyo” , Om Iman Brotoseno, Mas Totok juragan benwit Gunung Kelir, dan Pakdhe Suryaden berbagi keceriaan dan kebahagiaan bersama komunitas Blogger Bengawan dalam acara Launching pada malam itu. Luar biasa adalah kata yang tepat untuk mereka yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri Launching Komunitas Bengawan. Rombongan dari DAGDIGDUG diwakili sendiri oleh Pakdhe Didi Nugrahadi dan Mas Hepi, yang keduanya juga punya sejarah di kota Solo ini.

Terimakasih yang tidak terkira buat person-person yang telah mendukung acara Launching blogger Bengawan ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Kekurangan di sana dan sini dalam pelaksanaan acara memang sangat disadari, untuk itu sekalian mohon dimaafkan apabila ada hal-hal yang tidak berkenan di hati para tamu sekalian.

Silahkan untuk menyimak reportase yang lebih lengkap beserta foto2nya disini, disini, disini, disini, disini, disini, disini, disini, disini, disini, disini, dan disini (kalo ada yang terlewat silahkan tinggalkan pesan nanti saya masukkan).


* Diunggah pada Selasa(24/02) dari ndalem Panjoelldiningratan
Read more

18.2.09

Jangan Takut kelaparan di Solo

,

Solo sebagai surga wisata kuliner, semua orang juga sudah paham. Gudeg ceker, Sego Liwet, Bestik Harjo, Tengkleng Klewer, Soto Triwindu, Timlo Sastro, Serabi Notosuman adalah sederet ujung tombak wisata kuliner di Solo, yang sekarang semua bisa sampeyan jumpai di satu tempat pusat jajanan anyar bertajuk GALABO. Belum lagi dengan hik-hik (wedangan) yang bertebaran, yang masing-masing beradu ciri khas rasa tehnya masing-masing. Sekedar informasi aja kalo wedangan di Solo itu bakal rame banyak pengunjungnya asal tehnya enak, soal makanan sih nomer dua.

Saya sebenernya nggunem soal ini ada maksud terselubung. Saya cuma pengen nanti tamu-tamu yang bakal sowan ke Solo dalam rangka launching komunitas blogger Bengawan tidak khawatir dengan keamanan perut masing-masing. Intinya yo jangan takut kelaparan waelah pas di Solo. Selain itu harganya juga sangat bisa berkompromi dan dari siang sampe malem tetep aja banyak pilihannya. Sebagai contoh aja, ketika perut berontak minta diisi jam 1 malem, dengan uang 5 ribu rupiah saja saya sudah bisa makan kenyang dengan menu gudeg plus telor seperti foto ilustrasi diatas. Mau yang lebih ekstrim lagi, jam 3 dini hari saya masih bisa menikmati lezatnya sego liwet dengan lauk telor dan suwiran daging ayam plus teh anget dengan modal 7 ribu rupiah aja. Itu hanya sebagian kecil contoh saja makanan pengganjal perut yang menurut saya eksotis dan layak digunemkan di sini. Kalo yang laen semacem restoran padang, coffeshop yang buka 24 jam sih dimana-mana juga ada, ya to??

Jadi sekali lagi, buat blogger-blogger yang udah berniat untuk ikut berbagi keceriaan dan kebahagiaan dalam launching komunitas blogger Solo Bengawan nanti, jangan takut kelaparan, dan gak perlu takut bakal keluar duit banyak untuk urusan perut di Solo. Buat blogger-blogger yang kebetulan tidak bisa ikut berbagi kebahagiaan, mohon doanya aja semog Komunitas Blogger Bengawan ini mampu berbuat banyak bagi kota Solo dan sekitarnya, serta mampu berbicara lebih dalam jagat blogosphere Indonesia.
Read more

17.2.09

Bosan?? karepmu....

,
Blom ada hal yang menarik buat digunemkan disini bareng kawan-kawan blogger handal semua. Daripada saya nggunem waton nggunem mending meneng wae sekalian, ya to...

Jadi selamat menikmati kebosanan aja tiap buka halaman blog ini, dan ternyata blom ada guneman yang baru, Hahahahaha....

NgePlurk sik ah... (lmao)

* daripada garing gak ada gambarnya itu saya pasang logo blogger Bengawan yang baru.
Read more

12.2.09

PLURK

,

“Apa-apaan lagi ini???”, begitu pikir saya ketika orang-orang disekitar saya rame-rame ngomongin soal PLURK. Blom lagi istilah-istilah macam karma, tret, banana dance, mulai sering menyapa telinga saya. Sampe disitu saya masih males banget buat nyemplung ikut-ikutan nge-plurk. Hingga pada suatu malam, saya ditunjukkan sebuah tret PLURK milik kawan saya, ternyata isi tret itu kalimat berbalas dari temen2 blogger yang ngrasani saya belum juga bikin akun di PLURK, dibilang katroklah, gapteklah... ah dasar curut kabeh...

Akhirnya seperti yang sudah bisa sampeyan semua tebak, saya terprovokasi mbikin akun di PLURK, dan sialnya saya ikutan plurk dari hasil invite kawan saya itu. Buat sampeyan semua yang ngePLURK pasti sudah paham apa yang akan terjadi kalo kita berhasil mengundang kawan buat ikutan ngeplurk. PLURK adalah sebuah jurnal, bisa juga disebut mikro blogging. Kita bisa berinteraksi langsung dengan pengguna plurk laen yang sedang online dalam waktu yang sama. Keaktifan plurker (istilah bagi pengguna plurk) adalah salah satu penentu naik turunnya karma kita. Karma adalah poin yang kita peroleh untuk menebus emoticon2 lucu dalam plurk. Poin tertinggi dalam karma adalah 100, nah kalo mencapai poin segitu berarti kita sudah dalam kategori nirvana. Kini karma saya sudah 66.46 terhitung sejak pertengahan Januari lalu saya mulai ngeplurk.

“Trus apa asiknya kalo cuma berbalas kalimat, di YM juga bisa..”, kalo sampeyan mikir seperti itu, persis kaya saya dulu. Semua bisa terjawab kalo sampeyan semua sudah memiliki akun di PLURK. Bagi sampeyan yang belom punya akun dan pengen nyoba ngerasain ngePLURK, silakan daptar disini (pasti saya bakal dipisuhi banyak orang habis ini, hahahaha). Tapi sekali lagi saya nggak tanggungjawab lho kalo sampeyan jadi ketagihan ngeplurk.

Jadi, sudahkah sampeyan ngePLURK hari ini??
Read more

11.2.09

½ L + 7

,
Berawal dari perjalanan menuju kampung halaman pada hari Sabtu(07/02) kemaren, bangku yang kosong di kereta Pramex tinggal menyisakan satu tempat disamping seorang lelaki paruh baya, segera saja saya hampiri bangku kosong itu dan menempatinya. Satu stasiun terlewati dan obrolan itupun dimulai. Seperti biasa obrolan pembuka yang wajib bagi sesama penumpang kereta yaitu turun di stasiun mana dan bla bla bla... setelah beberapa kalimat tanya saling terlontar akhirnya saya mendapat satu nama dari orang tersebut, beliau mengaku bernama Totok (saya gak peduli itu nama bener atau cuma ngibul). Saya taksir umur lelaki yang berperawakan kurus dan berjenggot serta berkacamata itu sekitar kepala 4 lah.

Obrolan pun berkutat seputar profesi saya yang ngaku blogger waktu beliau menanyakan hal tersebut. Ketika pertanyaan berlanjut apa bisa menghasilkan uang dari profesi blogger itu, saya ngeles “Blogger itu sekedar profesi aja kok pak, kalo pekerjaan yang bisa nduwiti hidup saya, saya motret pak..”, dan beliau pun mengangguk-angguk. Kembali obrolan mengalir dengan hangat, soal politik, soal krisis ekonomi global, dan tidak ketinggalan soal agama. Sempet bikin keki juga waktu ditanya majlis taklim yang sering saya ikuti, byuhh...boro2 Pak... Kata-katanya yang mau tidak mau membuat saya bersepakat adalah ketika bicara panjang lebar soal ikhlas, takwa dan iman. Kalopun saya mau membantah saya ndak punya dalil-dalil yang apal soal itu, jadi daripada mati konyol saya cuma mengiyakan dan sekali-kali menimpali dengan pengetahuan agama saya yang secetek kubangan air yang ditinggalkan hujan didepan kos saya.

Perjalanan memasuki 1/3 akhir. Rupanya beliau mengamati cincin yang melingkar di jari saya. Pertanyaan, “ adek ini sudah menikah?” meluncur ringan dari bibirnya. Saya jawab “Belum, saya baru tunangan aja”, Kemudian terlontar lagi pertanyaan apakah umur tunangan saya sepantaran atau adek angkatan, saya jawab sepantaran. Nah disinilah rumus ½ L + 7 itu saya dapatkan. Beliau berasumsi kalo usia yang pas buat istri itu adalah setengah dari umur suami ditambah 7. Jadi kalo misalnya sampeyan sekarang umur 24 berarti carilah calon istri yang berumur 12+7 = 19 tahun. Alasannya secara fisik wanita itu akan lebih cepat matang dari laki-laki. Jadi kalo menikah dengan umur yang sepantaran nantinya akan cepat keliatan tua bagi si perempuan.

Entah untuk membesarkan hati saya atau bagaimana Pak Totok yang ngaku beranak lima itu langsung menambahkan bahwa rumus itu hanya ilmu titen bagi orang-orang jawa, nggak ada hadist maupun dalil2nya di Al-Quran, bahkan Muhammad SAW pun beristri wanita yang jauh lebih berumur daripada beliau sendiri. Mungkin dikira saya memikirkan hal itu, padahal aku yo ra peduli, hahahaha....

Akhirnya perjalanan sampai juga di stasiun Tugu Jogja, dan kamipun berpisah. Satu lagi perjalanan pulang yang terasa begitu singkat namun padat. Selain ilmu agama saya nambah (saya dikasih referensi buku soal agama untuk dibaca), saya juga mendapat rumus ½ L + 7 tadi untuk bahan bikin guneman di blog ini. Jadi apakah sampeyan semua bersepakat dengan rumus itu??

* Berhubung lensa kamera saya sedang rusak, jadi saya ndak bisa ngasih skrinsut bapak tersebut. Sebagai gantinya saya kasih ilustrasi foto narsis saya aja bareng sisihaning ati, semoga berkenan.
Read more

9.2.09

Demo Crazy

,
Mahasiswa sebagai "agen of change" dari sebuah negara adalah motor penggerak utama demonstrasi. Namun demonstrasi macam apa yang sekarang disuarakan para mahasiswa itu setelah kehilangan sosok “musuh bersama” pasca tumbangnya Soeharto?? . Memori indah akan kekuatan demonstrasi yang berhasil menumbangkan sebuah rezim otoriter pada tahun 1998 lalu dinodai dengan aksi-aksi demonstrasi yang semakin gak jelas belakangan ini. Demonstrasi yang sifatnya regional dan mengangkat isu-isu yang temporer seringkali kurang mendapat respon media. Walhasil kerusuhan dan aksi-aksi anarkislah yang dipilih sebagai bumbu demonstrasi agar mendapat respon dari berbagai pihak, termasuk media massa. Aksi demonstrasi jaman sekarang tidak luput dengan aksi-aksi seperti bakar ban, bikin macet lalulintas, bakar poster, dan perusakan fasilitas umum, yang nantinya fasilitas-fasilitas umum yang dirusak tersebut akan diperbaiki dengan uang pajak dari rakyat.

Stigma masyarakat umum tentang demonstrasi sekarang sudah menjurus ke negatif. Ketika para demonstran itu berteriak-teriak mengatasnamakan rakyat, namun rakyat sendiri tidak mendukung mereka, lalu sebenarnya untuk siapa mereka berteriak-teriak? Sebuah kasus yang masih hangat diperbincangkan yaitu tentang tragedi demonstrasi yang menuntut pemekaran wilayah di Sumatra Utara yang menewaskan ketua DPRD setempat. Terekam jelas disitu betapa sosok mahasiswa yang seharusnya menjadi pahlawan demokrasi malah menjadi beringas dan merusak gedung wakil rakyat yang tentu saja dibangun dengan uang rakyat dari pajak.

Ketika demonstrasi untuk menegakkan demokrasi telah berubah menjadi demo crazy, siapakah yang harus disalahkan? Kita harus sepakat dan memaklumi rekan-rekan mahasiswa dengan idealisme tinggi mereka didukung dengan darah muda yang masih bergelora, yang sering merasa gatal dan tertantang untuk meluruskan apa yang menurut mereka tidak benar dan menyimpang. Tapi apakah kita juga harus sepakat dan maklum saat aksi-aksi mereka itu identik dengan tindakan-tindakan anarkis yang malah meresahkan rakyat?

Tentu saja saya tidak gebyah uyah menganggap semua mahasiswa selalu anarkis dalam setiap berdemo, saya yakin masih banyak mahasiswa yang murni menyuarakan penderitaan rakyat tanpa harus mencari perhatian dengan tindakan-tindakan anarkis tadi. Saya kok malah lebih tertarik dengan konsep “merubah dari dalam”. Apabila rekan-rekan mahasiswa tersebut merasa tahu ada ketidakberesan dalam sebuah sistem pemerintahan, kenapa tidak berusaha meluruskan ketidakberesan itu dari dalam? Caranya ya tentu saja dengan masuk ke dalam sistem itu sendiri. Tidak selamanya menjadi oposan itu akan efektif merubah keadaan.

Pada akhirnya saya ucapkan salut kepada rekan-rekan mahasiswa yang masih mempertahankan cara lama menyuarakan pendapat dengan turun ke jalan. Namun alangkah baiknya apabila diperhitungkan lagi segala pengorbanan dan pencapaian yang didapat apakah sudah sesuai. Kalau dirasa belum sebaiknya mulai dipikirkan lagi cara-cara baru yang lebih elegan namun efektif. Mari kita jaga Republik ini agar tetap tentram damai dan sejahtera. Salam hangat selalu.

Ilustrasi gambar nyomot dari sini.
Read more

7.2.09

Huru-hara Hura-hura

,
Tidak lama lagi hajatan besar bakal di gelar di Republik ini. Yap, Pemilu sebagai pesta demokrasinya rakyat Indonesia hanya tinggal mengitung bulan saja pelaksanaannya. Yang namanya pesta, pasti melibatkan banyak orang dengan berbagai kepentingannya sendiri-sendiri, dan tentu saja yang namanya pesta pasti bakalan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, artinya bakalan banyak duit berseliweran selama rangkaian acara pesta itu berlangsung. Ada sedikit rasa excited, namun juga timbul perasaan was-was. Rasa excited itu lebih kepada sebuah rasa penasaran yang teramat sangat akan sosok pemimpin yang nanti bakal mengemban amanat rakyat menjadi nahkoda kapal besar bernama Republik Indonesia ini. Sedangkan rasa was-was sendiri muncul dikarenakan pengalaman pada “pesta-pesta” yang telah lalu yang selalu saja menimbulkan iklim “panas” yang dengan gesekan sedikit saja maka akan terbentuk sebuah kobaran api yang sangat besar.

Untuk kalangan politisi berdasi, Pemilu benar-benar bisa disebut pesta dan hura-hura. Dengan dana kampanye Partai yang seperti tidak terbatas (walaupun gak jelas juga darimana asalnya) membuat acara kampanye seperti ajang hura-hura saja. Lihat saja setiap capres yang berkampanye pasti akan mengemas acaranya sedemikian rupa, jor-joran artis kondang, jor-joran set panggung, jor-joran amplop dan tidak ketinggalan juga jor-joran janji-janji muluk.

Sedangkan untuk kalangan grassroot, gesekan-gesekan langsung acapkali terjadi. Mereka yang tidak akan mendapat apa-apa meskipun partai yang mereka bela habis-habisan bisa menang mutlak, kadang harus mempertaruhkan nyawa mereka untuk terlibat kontak fisik dengan simpatisan partai lain. Orang-orang kurang melek politik dan (maaf) tidak begitu berpendidikan tinggi ini menjadi mangsa yang empuk bagi politisi-politisi untuk dijadikan sapi perahan, sebagai sumber suara dan juga sekaligus diperah tenaganya untuk meramaikan kampanye. Huru-hara seringkali tidak terhindarkan. Jangankan untuk pemilu Nasional, pilkada pun sudah menuai banyak konflik. Pendukung dari calon yang kalah ngamuk-ngamuk gak jelas, merusak fasilitas umum dan tindakan-tindakan anarkis lainnya. Dulu saya inget banget di daerah dekat rumah saya ada tawuran dari dua massa parpol yang berbeda. Penyebabnya hanya sepele, yaitu berpapasan saat sedang konvoi dengan motor. Sempat mencekam juga karena saat itu saya yang masih kecil dan tidak tahu apa-apa soal politik harus menyaksikan orang-orang yang berkejaran mengacung-acungkan senjata tajam. Namun saat itu saya sudah bisa berpikir kalau ini bukan lagi maen kejar-kejaran buat having fun, hahahaha.

Yah semoga Pemilu yang akan datang nanti tidak akan menyisakan banyak masalah. Yang jelas mari kita pilih calon Presiden yang mampu menonjolkan dirinya melalui kerja nyata, bukan calon Presiden yang hanya sekedar numpang tenar nama besar tokoh lain.

* gambar nyomot dari sini
Read more

4.2.09

Lilin

,
Lihatlah sebatang lilin itu. Cahayanya yang temaram namun begitu jujur menyapa gelap. Lihat juga pengorbanannya yang rela untuk hancur lebur demi memberikan sedikit terang bagi sekitarnya. Konsistensinya untuk tetap menyala dan membagi terang sampai dirinya hancur tidak perlu diragukan lagi. Sungguh pengorbanan yang tanpa pamrih dan mulia.

Pengorbanan ala lilin itu yang sekarang sangat sulit untuk ditemukan. Pengorbanan yang rela untuk hancur lebur demi memberikan kemashlatan bagi yang lain. Jangan bicarakan caleg-caleg yang menebar amplop dan paket sembako di perkampungan kumuh, tahu apa mereka soal falsafah lilin ini.

Penganut falsafah lilin ini erat kaitannya dengan tulus, ikhlas dan tanpa pamrih. Berapa orang yang masih sanggup untuk seperti itu di dunia ini? Bahkan terhadap diri sendiri pun kadang kita tidak bisa tulus, apalagi terhadap orang lain yang bahkan tidak ada hubungan darah.

Sungguh saya merindukan orang-orang yang masih memegang falsafah lilin tersebut, karena saya sadar saya sendiri merasa tidak sanggup untuk itu. Indonesia butuh seorang pemimpin yang tulus ikhlas dan rela berkorban untuk Negara, pemimpin yang tidak selalu menganalogikan jabatan dengan uang.

Ah, semoga saja masih ada…

Read more

3.2.09

Unggah-ungguh Wong Jowo

,
Dalam budaya Jawa acapkali disebut istilah unggah-ungguh yang kalo diartikan dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti tata krama/ sopan santun. Budaya Jawa memang kental dengan nuansa sopan santunnya. Istilah-istilah yang menjunjung tinggi rasa sopan santun dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, terutama di pedesaan. Bahkan dalam tata bahasa jawa sendiri ada tingkatan-tingkatan yang menunjukkan tingkat kesopanan, ada kromo inggil, kromo alus, dan ngoko. Masing-masing penerapannya berbeda-beda, sesuai dengan lawan bicara kita.

Unggah-Ungguh ini seringkali membuat gemas orang yang berasal dari luar budaya jawa. Karena dengan menerapkan unggah-ungguh ini kesannya orang Jawa itu kalo ngomong jadi berbelit-belit dan panjang. Tapi itulah seninya orang Jawa. Bahkan dalam tingkat emosi tertinggi pun, orang jawa masih akan memakai unggah-ungguh.

Saya punya contoh nyata dan sederhana. Suatu ketika tetangga kos lama saya tiba-tiba berkunjung ke kos. Setelah ngobrol ngalor ngidul, akhirnya beliau mengungkapkan maksud kedatangannya. Rupanya beliau sekeluarga merasa terganggu dengan polah anak-anak kos yang sering tereak-tereak tengah malem pas maen PS, parkir motor seenaknya dan menggeber mesin motor gila-gilaan tiap pagi. Bahkan ketika merasa haknya untuk memiliki lingkungan yang tenang terganggu seperti itupun beliau masih sempat memakai kata-kata “nyuwun sewu” dan “maturnuwun”. Saya yang sebagai wong jowo asli, dan kebetulan menjadi yang dituakan di kos seperti tertusuk belati tajam. Saya lebih “kena” apabila ada orang yang seperti itu. Dan dengan hati yang tulus serta rasa gak enak yang teramat sangat, saya meminta maaf kepada beliau, tak lupa disertai dengan kata’kata “nyuwun agenging pangapunten” dan “maturnuwun”.

Satu lagi mengenai kearifan orang jawa yang saya temui. Ketika sedang janjian ketemu dengan orang tua ini di suatu warnet di Solo, saya numpang ke kamar mandi. Ada tempelan menarik di tembok kamar mandi tersebut, yang pada intinya adalah perintah untuk menyiram apapun yang kita tinggalkan setelah beraktifitas di kamar mandi tersebut. Menariknya, pada awal kalimat perintah tetep aja di imbuhi kata “Maaf”. Coba sampeyan semua bayangkan, bahkan untuk memberitahu tentang kewajiban kita harus ditambahi kata “maaf”. Untuk itulah saya kok merasa bangga menjadi “wong jowo”, yang seringkali dalam sinetron atau film dikonotasikan dengan hal-hal culun, lugu, goblok, dan tentusaja dicitrakan dengan bahasa Indonesia yang medhok.

Nyuwun sewu sak derengipun mugi seratan puniko saget dipun tampi dening panjenengan sedanten.
Read more
 

Gunemanku Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger